Tuesday, 23 December 2014

Naniura, Sashimi ala Indonesia

Di masa kini, saat seluruh budaya --termasuk makanan-- sudah mengalami penetrasi yang luar biasa, di kala Indonesia akan segera menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), saya yakin sekali bahwa pembaca yang budiman mengetahui apa itu sashimi.

Sashimi adalah makanan Jepang berupa makanan laut dengan kesegaran prima yang langsung dimakan dalam keadaan mentah bersama penyedap seperti kecap asin, parutan jahe, dan wasabi.

Paham ya, sashimi itu apa. Nih, fotonya.

Salmon Sashimi -- favorit saya
Ternyata, bukan hanya Jepang yang punya makanan dengan metode seperti ini -- makanan mentah yang dimakan dengan condiment tertentu. Indonesia juga punya! Namanya naniura, masakan  tradisional khas Batak.

Naniura ini pada dasarnya hampir sama dengan sashimi. Bahannya terdiri dari ikan mentah (biasanya ikan mas) tanpa dimasak, hanya dilumuri bumbu-bumbu tertentu dan didiamkan selama beberapa jam. And voila! Naniura siap dimakan.

Berikut bahan-bahan naniura yang saya dapatkan dari link ini

Bumbu Naniura dari blog ini
Banyak ya? Iya, memang masakan Indonesia juara deh bumbunya! Setuju kan?

Kira-kira jadinya seperti apa? Ini nih.... Awas ngiler ya
Naniura dari blog ini


Rasanya seger, asem, pedes, ada rasa khas andaliman sama kecombrangnya. Yang jelas, rasanya tegas karena banyak banget bumbunya. Ikannya juga nggak terasa amis. Saya berusaha keras nih supaya nggak ngiler hehe...

Merasa keren karena doyan salmon sashimi? Yuk, coba sashimi negeri sendiri!

Monday, 22 December 2014

#HariIbu

Senin, 22 Desember 2014, 12.00 AM

Saya bangun untuk pindah ke kamar. Weekend ini, kami sekeluarga pergi ke Puncak untuk acara reuni Keluarga Wijaya lagi. Sampai rumah jam 18.00, mandi, beres-beres terus tidur di depan tv.
Jam 12, saya dibangunin mamah karena disuruh pindah ke kamar. Ambil hape dari charger terus langsung ke kamar. Pas ke kamar, saya mendapati my bed was set and the air conditioner was turned on.

Senin, 22 Desember 2014, 06.33 AM

Pagi ini, saya berusaha bangun pagi, mandi cepet, supaya bisa berangkat lebih pagi karena hari ini adalah hari Senin. Hari Senin berarti macet tak berkesudahan. Sesampainya di mobil, saya sadar. Semalam, saya lupa cabut charger dari colokan apalagi menaruh charger di tas saya.
Saya udah hopeless, udah bikin skenario untuk nggak main hape, tapi sayang hay day nya. Terus sampe mikir untuk pinjem charger-nya Durjana aja, soalnya charger dia yang paling compatible.
Sampe saya mau WA-an juga males.
Sampe di kantor, saya mau masukkin hape ke tas. Tiba-tiba, saya mendapati charger di tas saya! Wowness!

Call me spoiled but I have the best mom in the world! Terima kasih, mamahku sayang. All world's problems (my world) are fixed by you! I love you to the moon and back! Hug and kisses and Happy Mother's Day!

Tuesday, 16 December 2014

Yuk, Hidup Sehat!

Tau wanita cantik, muda nan fresh ini? 

Pic's taken from her insta
Yup! Sophie Navita, istri Pongky Barata Jikustik (betapa beruntungnya dia punya istri secantik, sepintar, selucu, semuda ini kan?)

Kira-kira dua bulan yang lalu, saya dan beberapa teman satu kantor terkena raw food wave. Semacam Korean wave tetapi tentunya lebih sehat. Mengapa? Karena kami semua terinspirasi gaya hidup Ibu Sophie ini yang rutin mengkonsumsi makanan mentah yang kemudian berdampak pada penampilannya. 

Berpikir makan raw food terus jadi secantik dia. Iya, ini logika yang salah sih haha. Tetapi bukan itu maksudnya. Intinya hanya satu, saya dan teman saya ingin mencoba makan makanan yang belum dimasak. Konon katanya, enzym dari sayuran yang belum dimasak lebih mudah diserap oleh tubuh. Nah, ini yang katanya bikin awet muda.

Selain itu, saya sering kali makanan minim sayur sepanjang weekdays. Terlalu sering makan dengan menu ayam/ikan goreng, mie ayam, soto. Ya ada sayurnya, tapi masih minim, menurut saya. Jadi, niatnya sih mendapatkan serat dari sayuran mentah untuk melengkapi makanan yang biasa dimakan. Supaya tidak merasa bersalah kalau makan ayam goreng kakek itu.

Sampai suatu hari, saya membuat green smoothies. Yayness! Bahan-bahannya sederhana, 

This loads your tummy
Favourite Combination

Hasilnya? Warnanya hijau-hijau jelek gitu memang. Udah lah ya, tetap berpegang pada "Don't judge book by its cover". Rasanya? Saran saya sih diminumnya selagi dingin. Selain terasa segar, aroma sayurnya jadi agak hilang. Favourite saya yang dikombinasikan dengan nanas.








Apa efek setelah minum green smoothies setiap hari? Ini saya cerita yang sejujur-jujurnya ya. Saya buang-buang air sehari dua kali selama seminggu. Saya sempet agak stress juga, kok begini ya? Apa karena saya nggak cocok jadi orang kaya minum jus setiap hari? haha... Tetapi ternyata efek itu menghilang setelah seminggu. Setelahnya, biasa saja.







+ Merasa lebih sehat? 
Looks good, right?
- Hmmmm, belom terasa sih. Tapi, saya tidak merasa bersalah makan apapun setelahnya. 

+ Merasa lebih cantik?
- Ehem, pertanyaan yang tidak perlu jawaban ya. Hihi. Next.

+ Merasa lebih fresh?
- Iya dong! Sejujurnya, sejak minum green smoothies di pagi hari, saya jarang ngemil di waktu antara makan pagi dan makan siang.

+ Merasa lebih keren?
- Sipirili! Ini mengikuti kekinian! Haha

Akhir-akhir ini saya udah jarang minum green smoothies :'( Akan dilakukan lagi mulai bulan depan! Mengapa? Jadi kepelikan berikutnya adalah sulitnya menemukan komposisi yang pas untuk jus yang sehat dan nikmat. Catat ya, nikmat! Saya cepat bosan dengan rasa yang itu-itu aja. 

Jadi, berani coba minum green smoothies? Setiap hari?

*Pics are taken from internet

Tuesday, 9 December 2014

My First Celebrity Crush

Lagi-lagi tema "crush" ya. Mudah-mudahan pembaca blog saya yang rasa-rasanya hanya sebatas anggota arisan nggak bosan. Ya, nggak mungkin bosen juga sih. Hehe...

Seperti disebutkan di tulisan sebelumnya tentang orang yang saya suka, yang baca pasti sudah paham dengan kriteria saya. Nah, setelah mengenal Twitterland, saya dikenalkan oleh seorang seleb tweet yang namanya *ehm... Henry Manampiring alias [at]newsplatter. Hihi... Terima kasih banyak untuk Citra Handayani yang mengenalkan saya dengan si om.

Om Piriiing! *pic taken from his blog
Mengapa saya "jatuh cinta" dengan dia? Ya ampun, dia funny yet smart plus broad knowledge, plus a reader, plus good-looking. Kurang apa coba?

Awalnya, memang dia hanya melontarkan komentar-komentar lucu tentang satu berita. Seiring berjalannya waktu, sepertinya dia pindah kerja. Kemungkinan, saat itu, dia bekerja di satu lembaga survey online, sehingga beberapa kali si om satu ini membuat survey lucu-lucuan. Just for fun. Saya pernah dua kali ikut survey-nya.

Kebahagiaan saya bertambah karena saya mengikuti survey "Kebiasaan Orang Yang Menyebalkan" dan jawaban saya ditulis di sana. Aaaaaaaak!

(harusnya ada bukti pic survey yang saya ikutin, tapi niwa nggak bawa-bawa bukunya, jadi nggak bisa difoto. menyusul ya)

Dari buku ini, saya setuju banget sama om Henry yang keren ini. "Kalau kita belum bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain, minimal, jangan menyebalkan." Ya ampuuuunnn.... Keren banget kan? (Oke, keliatan bagaimana saya sangat mengagumi dia kan? Hahaha)

Kemudian, suatu hari... Dia menyatakan kalau dia menikah. Ra...sa...nya... hati hancur berkeping-keping terus diserok kepingannya, ditaruh di grinder (kopi kali). Tapi ternyata, istrinya cantik! Jadi, nggak menyesal lah dia nggak pilih saya (kenal juga nggak ya?) hahaha...

Pernah sekali liat mereka nonton di Plaza Indonesia, nonton film yang sama setelah jam saya nonton. LIAT! Dia nonton film yang sama! Betapa berjodohnya saya sama dia, kan? (Harap maklum. Memang kalau orang jatuh cinta kan suka aneh-aneh hubungin semuanya, padahal ya gitu doang). Tau dari mana mereka nonton film yang sama dengan saya? Karena setelahnya, dia me-review lewat tweet-nya. Betapa saya stalker durjana. Eh, enggak juga deh. Sebenernya itu kebetulan baca tweet-nya *ngeles

Pernah saya nanya di ask.fm-nya tentang buku yang dia baca sampai dia sangat berfaedah bagi nusa dan bangsa. Terus jawabannya: scroll ke bawah dong, udah sering ditanyain nih.

Rasanya pengen: Woi, ask.fm lo udah panjang bangeeeeet. Kudu banget gw scroll nyari-nyari di bawah. Tetapi karena dia adalah cinta saya (duileh!), saya hanya bisa menatap pasrah dengan penuh cinta sambil bilang "iya, mas, iya. Saya scroll ke bawah, kalo perlu saya list itu buku satu-satu terus main ke rumah kamu supaya bisa pura-pura minjem buku. :")

Oh, bukan hanya itu, saya bahkan tau dia suka pisang, dia hobi baca Malcolm Gladwell, dia nggak suka makanannya diambil orang (termasuk istrinya), mereka honeymoon di Bali (Ubud tepatnya. Mau tau hotelnya? Ada deh! Haha), istrinya nggak suka pisang (eh?).

Om piring, you see, you've accompanied me days and nights with so much laughter and brainy materials to feed my mind. Thanks to Twitter.  And you. Your existence but not your wife.XD

Monday, 1 December 2014

Shit Happens Yet It Brightens Up Your Days (Sometimes)

Suatu hari yang menyenangkan, Abang saya menawarkan tiket murah CGK-HK-CGK. Asal tahu saja, perjalanan itu akan dilakukan tahun depannya. Saya masih punya banyak waktu untuk menyusun rencana hingga saat itu tiba. Tak disangka tak dinyana, mendekati hari-H, ada tawaran beasiswa dengan jadwal tes tepat pada hari-H. Terpaksa saya terlambat berangkat ke HK dengan alasan masa depan yang lebih bahagia (bayangkan 1-2 tahun di alam baru).

Well, Shit Happened!

Suatu sore yang melelahkan, kantor mengadakan rapat malam, rapat yang diadakan setelah jam kantor. Siapa yang tidak lelah? Oke, mungkin saya mencari pembenaran. Sepanjang rapat, saya bermain game dan hanya mendengarkan sekilas tentang isi rapat.
Setelah rapat, boss berkata, "Kamu bikin notulen rapat ya."

Shit Happened!

Suatu malam yang membahagiakan setelah kumpul bersama teman di pusat perbelanjaan, saya melihat satu buku karangan penulis yang saya suka (pake banget). Mitch Albom - First Phone Call From Heaven. Sedari awal, saya mengincar buku tersebut di toko buku P. Sayangnya, edisi pertama berupa hard cover yang membuat harganya naik cukup signifikan. 

Pada malam itu, saya yang melihat buku First Phone Call From Heaven dengan edisi paperback dan harga lebih murah di toko buku K, merasa girang bukan kepalang. Tetiba sekeliling saya gelap dan bertabur bintang-bintang. Oke, lupakan. Adegan tersebut hanya ada di film. Pun di dunia nyata, bintang-bintang di sekeliling saya, bisa jadi pertanda kalau saya akan pingsan.

Kunjungan berikutnya ke pusat perbelanjaan tersebut, saya sempatkan ke toko buku K (setelah saya cari, memang hanya toko buku ini yang menjual buku tersebut dengan edisi paperback). Saya membeli buku tersebut. Saya merasa bangga dan berbahagia. Sampai akhirnya, pada saat kunjungan saya bersama teman ke pusat perbelanjaan (lagi, oke, saya sering banget ya kayaknya), saya iseng ke toko buku G. Saya memang meyakini bahwasanya toko buku G tidak terlalu banyak memiliki koleksi buku impor dan harganya terkadang lebih mahal. 

Apa yang terpampang di depan mata tak pernah berbohong kan? Saya melihat buku tersebut. Ya, First Phone Call From Heaven edisi paperback. Saya balik buku tersebut dan saya melihat harga yang le...bih mu...rah. Belum berhenti di situ, saya melihat ada papan bertuliskan 10%, yang berarti ada tambahan diskon 10% untuk buku itu. 
Ah, well...
Shit Happened



Shit Happens 
but 
Life's Still Good :)

*Pic's taken from internet

Wednesday, 26 November 2014

Oleh-Oleh Reuni Keluarga

Sabtu kemarin, saya dikabari Papah kalau ada acara kumpul-kumpul sama keluarganya. Iya, begitulah semacam ada drama keluarga yang menjauhkan mereka sehingga jarang berkomunikasi, dan akhirnya masing-masing beranjak tua dan menyadari bahwa keluarga itu penting. Semacam lost-lost family hahaha...

Kami berangkat Sabtu subuh. Sampai di sana, saya bertemu om, tante, sepupu, dan keponakan. Kemudian, datang lagi satu sepupu berikut anaknya. Yang mencengangkan adalah sepupu saya ini punya anak yang lebih tua dari saya dan sudah beranak dua. Jadi, saya sudah layak disebut "TANTE" atau bahkan "OMA." Omaigat! Tapi akhirnya, setelah melalui proses negosiasi dan karena dia jauh lebih tua dari saya (haha, punten ya, teh Marlin), saya panggil dia teteh. Yoi! I have a bit of Sundanese blood. Can't deny it.

Singkat kata, singkat cerita, saya ngobrol banyak sama si teteh yang ternyata oke punya. Si teteh ternyata adalah seorang konselor di salah satu yayasan yang menangani orang dengan ketergantungan terhadap sesuatu (junkies). Tetapi, dia lebih fokus kepada orang dengan ketergantungan obat-obatan dan hiv/aids.

Pada intinya, jika ada keluarga yang memiliki ketergantungan terhadap obat-obatan terlarang, jangan diasingkan karena mereka tetap membutuhkan keluarganya tidak peduli apapun. Yang sering terjadi adalah, keluarga merasa malu dan "membuang" anggota keluarga dengan dalih rehabilitasi. Setelahnya sembuh pun, keluarga harus tetap menjaga dan mengawal anggota keluarga itu agar ia tidak kembali ke jalan tersebut.

Intinya sih, tidak ada satu alasan pun yang membenarkan seseorang untuk menggunakan narkoba dan support keluarga merupakan hal terpenting.



Obrolan pun berlanjut ke area seputar HIV. Ya, karena apa sih lanjutannya setelah memakai narkoba dengan jarum suntik yang bergantian? HIV kan?

Untuk hal ini, si teteh bilang bahwasanya ODHA (Orang Dengan HIV AIDS~odha) masih memiliki harapan memiliki anak tanpa mengidap hiv/aids walaupun menikah dengan sesama odha. Caranya dua, yaitu tidak melahirkan secara normal dan tidak menyusui. Dengan begini, kemungkinan anaknya tertular hanya 3 persen.



Selain itu, si teteh juga bilang kalau kekebalan tubuh seseorang itu bisa didapatkan dari tertawa atau perasaan bahagia. Jadi, untuk odha yang kekebalan tubuhnya menipis, perlu orang-orang di sekitarnya yang terus memberikan support. Makanya mereka tetap butuh orang-orang di samping mereka untuk terus membuat perasaan bahagia, tertawa dan rasa diinginkan.

Mereka yang terinfeksi hiv/aids jangan dulu bersedih dan meratapi diri sendiri lalu mengurung diri. Ada banyak komunitas tempat berkumpulnya orang-orang dengan masalah yang sama. Dengan berada bersama orang-orang yang memiliki msalah yang sama, mereka tidak akan merasa sendirian dan harapan hidup meningkat.

Pada intinya, semua berasal dari hati. Semua berasal dari kebahagiaan diri. Jadi, berbahagialah. Ciptakan kebahagiaan itu sendiri.


*Pictures are taken from internet

Monday, 17 November 2014

I got a crush on you!

Ketika mendapat tema minggu ini tentang "first crush on people," saya agak syiok karena berarti saya harus menggali lagi memori lama tentang siapa orang yang pernah saya suka. Bisa dibilang saya jarang tertarik sama pria, bukan karena saya punya preferensi seksual yang berbeda. Hanya saja, saya tertarik sama pria yang "tidak biasa." Kalau pilihannya orang terkenal, dulu saya pernah suka (pake banget) sama Effendi Ghazali jaman beliau belum menikah (tebak saja beliau umur berapa waktu itu). Simply because he's smart. Kemudian, saya juga suka sama Indra Bekti because he has good sense of humour.

Berhubung ini agak serius, berarti saya harus mencari pria yang nyata dan membumi sedikit ya. Oke, jadi dulu saya pernah suka (lovey-dovey alias cinta monyet) sama seorang cowok jaman SD. Dia beda 2 tahun dengan saya. Waktu itu saya kelas 4 SD, dia kelas 6. Dia menarik perhatian saya karena dia tinggi, cakep, dan gayanya santai banget. Namanya Valentino. Ah sudahlah, ada berapa banyak orang dengan nama Valentino di Indonesia? Jadi tak apa ya, kalau saya sebut.

Beranjak SMP, saya lagi-lagi bersekolah di tempat yang sama dengan V. Tapi, saya tak lagi tertarik dengannya, sudah biasa saja. Namanya juga cinta monyet. Tiba-tiba, sahabat saya dari jaman TK cerita dengan mata berbinar-binar kalau dia deket sama kakak kelas yang disebut "tupai. HA! See! I even remember the nickname she gave him. hehehe... Waktu itu, temen saya tidak mengakui kalau dia suka sama V, tapi saya tau. Saya pun memberi tahu teman saya bahwa V sudah punya pacar namanya Angel yang cantik seantero sekolah (ini beneran). Ya bisa ditebak berakhir seperti apa....

Jadi, kenapa waktu itu saya tidak lagi tertarik sama V? Karena saya (lagi-lagi) terperangkap cinta monyet dengan kakak kelas yang kebetulan kelasnya sebelahan sama kelas saya. Namanya Freddy, orang Manado. Orangnya cakep, putih, agak gendut sedikit. Nah, cowok yang ini juga ditaksir sama teman sekelas saya. Yasudah, daripada berebut, ditetapkan saja Freddy sebagai "cowok bersama" haha! Ampun deh, jaman itu...

Monday, 10 November 2014

Childhood Superheroes

Horeee! Habis gelap terbitlah terang! Habis tema film sedih terbitlah tema blog menyenangkan!

Ngomongin masa kecil itu selalu menyenangkan, membahagiakan, dan mengharukan ya.  Itu adalah saat-saat dimana saya sudah mandi jam 4 sore, sudah wangi, bedakan, makan sambil disuapin terus nonton Satria Baja Hitam! hahaha...

Inget gayanya? :))
Saya suka sih Satria Baja Hitam, tapi ada yang lebih saya sukak! Saya cinta banget sama Sailormoon! Iya, itu yang cewek-cewek cantik yang mewakili planet. (Untung ya, dulu sempet ada Pluto. Karena sekarang udah nggak ada planet Pluto berarti Sailor Pluto ditiadakan dong? :'( ) Saya suka banget sama Venus dan Neptunus. Saking nge-fans-nya, saya dulu sampe punya kartu remi Sailormoon (yang ini entah kemana), terus punya game Super Nintendo-nya. Aaaaaaakkkkkk. Belum lagi saya suka gambar-gambar Sailor-nya pake cat air.



Setelah Sailormoon, saya dikenalkan Magic Knight Rayearth. D'oh! Cinta banget sama kartun ini! Saya cinta banget sama Umi Ryuuzaki, yang warna biru. Yang lebih cinta lagi adalah kartunnya keren bangeeeet. Gambarnya pol kerennya, sampe sekarang masih ngefans banget! Saya sampe beli satu buku isinya gambar-gambar tiga cewek cantik dan keren ini. Sayang banget deh, ni buku nggak tau dimana :'(

Fuu Hooji, Umi Ryuuzaki, Hikaru Shidou (kiri ke kanan)


Umi Ryuuzaki <3
Terakhir, entah kenapa saya suka Batman. Sebenernya sih nggak suka banget-banget. Mungkin karena saya dibesarkan dengan dua abang, jadinya saya agak-agak terbawa cowok. Jadi, saya pernah punya baju yang ada sayap batman-nya di belakang. haha! Kebayang dong gimana saya pake baju itu dengan bangganya dan muter-muter rumah supaya itu sayap agak berkibar-kibar. Aduh, kalau inget itu, malu :")

Pardon the excess. The pictures are displayed to be enjoyed :)

All pictures are taken from internet

Friday, 31 October 2014

Saddest Movie I've Ever Watched and Will Never Ever Watch It Again Ever

Saaad movies always make me cry...
Sekian teaser tembang kenangan berjudul Sad Movies dari Sue Thompson. Ada yang tau? Haha! Selamat! Orang tua kita seangkatan XD

Jadi begini, saya nggak pernah suka nonton film yang sedih dan menyusahkan hati. Mau dapet hiburan dari rutinitas, masa nontonnya yang sedih? Jadi genre saya sih biasanya komedi romantis hehe! Namun demikian, demi memenuhi tulisan tematik, setelah dipikir-pikir, untunglah saya pernah nonton satu film sedih sampe nangis sejadi-jadinya dan sesenggukan.
Film apa???


 Yaaa, dari judulnya aja udah keliatan kan itu film akan menguras air mata sampe seliter.

Cerita diawali adanya seorang murid perempuan bernama Kitou Aya yang ingin tes masuk SMA. Sewaktu dia mau pergi tes, tiba-tiba dia terjatuh. Dari situlah awal masalah dimulai.

Seiring berjalannya waktu, Aya semakin sering terjatuh dan cara berjalannya pun aneh. Akhirnya, ibunya memeriksakan Aya ke dokter dan diketahui Aya mengidap penyakit spinocerebellar degeneration. Penyakit yang menggerogoti fungsi otak dimana pengidapnya perlahan tapi pasti akan mulai tidak bisa menggerakan anggota tubuh secara sadar dan tidak sadar. Dimulai dari tidak bisa berjalan, berbicara, menulis, dan tidak bisa makan. 

Di awal cerita, Aya masih bersekolah di sekolah biasa. Ketika penyakitnya semakin memburuk, Aya mulai menggunakan kursi roda, ia tidak lagi bisa bersekolah di sana. Ia harus pindah ke sekolah disabilitas. Adegan perpisahan sekolah ini termasuk adegan yang membuat saya sesenggukan.

Belum lagi adegan ketika Aya sudah dirawat di rumah sakit. Awalnya ia masih bisa bangun untuk ke toilet, lalu lambat laun ia tak bisa bangun dari tidur dan tidak bisa berjalan tapi masih bisa berbicara. Setelah itu, cara bicaranya mulai melambat dan patah-patah dan akhirnya tak bisa berbicara sama sekali. Untuk berkomunikasi, ia menggunakan tulisan. Ketika menulis pun sudah tak sanggup dilakukan, ia hanya berbaring dan pada akhirnya melakukan perjalanan abadi menuju Sang Pencipta.



Adegan Aya menjadi depresi dan sering menangis karena menyadari dia tidak bisa lagi melakukan hal yang dulu bisa dilakukan sendiri ini yang membuat saya menangis. Sejak sakit, ia membutuhkan bantuan dari orang lain.

Belum lagi menerima kenyataan bahwa penyakit ini terjadi pada orang-orang tertentu secara acak dengan perbandingan 1:1.000.000 (kalo nggak salah). Aya mempertanyakan "Kenapa penyakit ini memilih saya?" (Duh, gimana nggak nangis coba?) Cerita ini juga berdasarkan kisah nyata T_T *nangis sesenggukan

Jadi, yang mau nonton film ini, silahkan saja. Lebih baik nontonnya sendiri atau sama temen cewek terus nangis berjamaah. Jangan lupa siapin tissue yang banyak. Saya nonton sama abang saya, terus dia resek dan nggak nangis sedikit pun. Hih! Durjana emang dia.

Oya, OST-nya juga enak lho, seperti Konayuki by Remioromen atau 3gatsu 9ka by Remioromen. Ya tetep bernuansa kesedihan.

Oke, jangan minta saya ceritain yang menguras emosi begini lagi ya. Cukup ini saja. Hehe.
*lirik sinis ke Pindo

Terima kasih kepada blog-blog yang membahas dan memposting gambar mengenai film One Litre of Tears :-)

Tuesday, 28 October 2014

Reuni Memori

Apa sih yang kamu lakukan 1 tahun lalu hari ini?
Atau yang kamu lakukan 3 tahun lalu pada hari ini?
Lima tahun lalu?

Deuh, yang bener aje, masa gw harus inget setiap hari gw ngapain aja berapa tahun yang lalu? Pasti mikir gitu kan? Hahaha, iya. Emang kurang kerjaan sih kalau inget semuanya (bagus kalo bisa). Tapi buat saya sih, mending inget yang penting-penting aja (macem Sherlock si ganteng Om Ben! ~~Lost Focus)

Oke, kalau otak nggak secanggih google dan doodle-nya yang bisa ingetin kita hari ini 5 tahun lalu ada apa, jangan bersedih dulu. Ada apikasi namanya "Time Hop." Jadi, aplikasi ini bisa mengingatkan penggunanya tentang "apa yang kita lakukan" hingga 5 tahun ke belakang.



Dari mana taunya? Dia terhubung ke semua sosial media yang kita punya, bahkan sampe ke memori hape, foto-fotonya. Terus, setiap hari, kita diingetin kalau time hop siap dibuka alias siap mengingatkan apa yang terjadi pada kita di jaman dulu.

Time Hop udah ngingetin saya apa aja sih? Hmmm, dia udah ngingetin saya setahun lalu pas kemarin, kakak sepupu saya menikah. Saya dan keluarga ke Jogja terus kumpul-kumpul keluarga deh.

Mom and Me "Selfie" at the Wedding


Ngomong-ngomong kumpul sama keluarga, seperti reuni lainnya, selalu ada cerita yang nggak pernah absen untuk diceritakan kembali.

Cerita ini yang paling hits dan tak pernah diketahui kebenarannya.

Dulu, saudara saya yang hobi motor trail itu beserta keluarganya main ke Jakarta. Ya ampun, jaman bocah masih lucu dan imut-imut gitu (sekarang juga teteup sih). Nah, kita serombongan sirkus main ke Dufan. Yang masuk Dufan cuma anak-anak aja, sementara ibu-ibu-nya main di Pantai Ancol.

Nah, kita baru keluar Dufan pas gelap, ya namanya juga maen, mana bisa sebentar. Terus sepanjang kita main, katanya sih, si ibu-ibu pada main speed boat! Terus mereka ceritanya seneng-gembira-ria-bahagia gitu. Kita nggak pernah percaya sih itu beneran. Masa iya mereka main terus nggak basah? Haha! Tapi itu cerita nggak pernah absen dong diceritain, sampe kita pada bosen dengernya... (-___-")

*pictures from Google and personal collection

Tuesday, 21 October 2014

Favourite Snacks

When these get ripe and they are ready to be picked...


Then they undergo some processes and become this melted chocolate that mixes with your saliva, fills your mouth with smooth texture and its medium sweetness and activates all the senses and sweet teeth in you.


Hold on, don't get satisfied just yet. You know how it feels to meet your half-soul? Oh yes, this one is the perfect match of the chocolate

The crispy, light, airy wafer that will create that familiar sound every time you bite and comfort you and your tummy. Plus, it brightens up your afternoon!

And they become the perfect match on earth, yes!



So, this is my favourite snacks during my idle time (if there is, haha!) in my office.
I'm telling you, this one is different from the other competitors. It is thick and dense with chocolate (not a commercial ads and i don't get paid for this).

Try it and tell me how you feel after eating this in the comment space below.


*nearly all pics are from the internet. The last one is mine (made it last minute).

Tuesday, 14 October 2014

Book With Twisted Plot

Pada suatu hari, hiduplah seorang gadis yang senang memakai kerudung merah hingga ia dipanggil dengan sebutan  "Si Kerudung Merah." Si Kerudung Merah memiliki seorang nenek yang tinggal di dalam hutan. Setiap hari, ia mengantarkan makanan yang dibuat oleh Ibunya bersama dengan buah berry yang ia petik sepanjang jalan untuk diberikan kepada neneknya. Suatu hari datanglah serigala bertaring tajam yang hendak memangsanya. Bersembunyi di balik pohon. Hap! Dimakanlah Si Kerudung Merah.

Saya hidup dan besar dengan dongeng di atas. Ya, dengan beberapa dongeng internasional lainnya seperti Cinderella, Little Mermaid, Sleeping Beauty, dan Snow White. Hampir semua dongeng mainstream.

Dongeng yang sederhana dan menenangkan untuk diceritakan sebelum anak kecil tidur.

Sampai akhirnya saya tumbuh dewasa dan membaca buku dengan sudut pandang yang berbeda. Cerita dengan twisted plot yang terus membuat saya ingat tentang buku itu.

Si Kerudung Merah tidak lagi diceritakan sebagai anak kecil yang lucu dan lugu tetapi wanita yang menggoda serigala.

Dahulu, diceritakan seorang gadis yang sering memakai kerudung merah sehingga ia dipanggil dengan sebutan Si Kerudung Merah. Suatu hari, Si Kerudung Merah sedang berjalan melintasi hutan dan ia melihat seekor serigala. Ketika ia melihat ke dalam mata serigala, ia melihat seuatu yang tidak biasa dan merasa jatuh cinta padanya. Si Kerudung Merah berlari mengejar serigala yang lari ketakutan hingga akhirnya serigala menyerah dan berbalik. Serigala melihat ke dalam mata Si Kerudung Merah terjadilah hal tersebut. Mereka memiliki anak setengah serigala.

Atau cerita Snow White yang diceritakan ulang seperti berikut:

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang putri yang putih bersinar sehingga ia dipanggil dengan sebutan Snow White. Snow White hidup dengan tujuh kurcaci yang membencinya karena Snow White tidak lebih dari seorang wanita gendut yang terus menerus ingin makan dan marah ketika kurcaci terlambat memberikan makanan. Sikap buruk Snow White membuat para kurcaci tidak merasa nyaman dan timbul ide untuk meracuninya agar sang Pangeran segera datang dan membawa Snow White pergi. Sebuah apel diracuni dan dimakan oleh Snow White. Kemudian ia jatuh pingsan. Tiba-tiba, datanglah seorang pangeran berkuda dan mencium Snow White. Alih-alih bahagia, setelah bangun dari tidurnya, Snow White marah kepada Pangeran. Bukannya menikahi Snow White, sang Pangeran pun segera menunggangi kuda dan pergi meninggalkannya.


Entah mengapa saya suka dengan cara penulisnya menceritakan kembali cerita dongeng lama dengan plot dan karakter tokoh yang berbeda. It sticks on my mind like you! (Jarang-jarang saya bisa ingat detail cerita setelah selesai membaca buku dalam kurun waktu yang agak lama). 

Dua cerita di atas hanyalah dua bagian dari keseluruhan cerita fantasi yang menarik dari buku berjudul "The Book of Lost Things" karangan John Connolly. Ceritanya memang bukan untuk anak-anak karena agak suram. Tidak membahagiakan atau menenangkan. Tetapi tetap cocok untuk bacaan sebelum tidur, untuk dewasa.




Sumber: mahatau Google

Saturday, 4 October 2014

Barang "Dibuang Sayang"

Setiap keluarga pasti punya kebiasaan, tak terkecuali keluarga saya. Bukan semacam kebiasaan aneh juga sih, hanya kebiasaan menyimpan benda yang padahal sudah tidak dipakai tapi tidak mau dibuang juga apalagi dijual. Benda itu adalah telepon genggam (hape).

Saya mulai menggunakan hape sejak kelas 1 SMA (telat ya? Hehe). Pada jaman itu, yang lagi hits Nokia 3310. Punya saya yang warna biru haha! Tapi benda yang ini sudah dijual sih.

Terus ganti Nokia 3660 silver, yang tulip itu, tapi keypad-nya yang biasa aja. Yang ini kayanya disimpen tapi entah kemana.

Terus ganti lagi ke Sony Ericsson W700i yang warnanya gold! Ini hape bersejarah yang menemani saya di Eropa. Hape yang ini saya "lungsurkan" ke mamah. Awet juga sampai akhirnya charger-nya rusak terus berhenti deh hidupnya. Hape ini juga sudah entah dimana.

Berikutnya, saya ganti E71. Hape yang saya bangga2in sepanjang masa. Dulu, uda jaman BlackBerry tapi saya insist banget pake E71. Malah bete banget sama BB.

Sampai suatu hari, abang saya yang udah kaya sales-barang-promo nawarin ganti hape yang lagi promo (padahal ganti E71 aja belom lama, kan sayang huhu). Yak! BlackBerry dan entah kenapa saya mau. Gantinya BB Javelin hitam. Yang ini juga nggak bertahan lama dan akhirnya dijual ke temen saya.

Kenapa dijual? Karena (lagi-lagi), abang saya si sales-barang-promo itu nawarin BB Onyx 2 putih. Udah kaya dihipnotis K*rd*, saya mau aja. Padahal nggak dibeliin deh, tapi nyicil ke dia. Oke, dia selain sales ternyata sekalian leasing. Akhirnya saya pakai BB itu dan bertahan 2 tahun lebih (sampai sekarang masih berfungsi).

Karena pake BB kebanyakan drama kantornya, saya ikut arus beralih dari BB ke Android. Voila! Jadilah saya pake Sony Xperia Z hitam yang saya bangga-banggakan padahal awalnya pernah nggak bisa sms karena belum di-setting haha! Foto-foto yang saya upload di blog ini menggunakan si hitam manis ini. :)

Oiya, waktu jaman CDMA lagi bergema seantero jagat raya karena tarifnya yang murah durjana, saya juga sempet tergoda beli Nokia flip yang pink (deuh, hits banget waktu itu dan sulit dicari). Tapi saya dapet dong haha! Yang ini masih dipakai kadang-kadang.

Beberapa hape yang tidak dijual hanya menganggur di rumah. Soalnya, setelah dipake 2 tahun, kalau dijual, bikin sakit hati doang. Yaudah, lebih baik mereka di rumah jadi bangkai haha! Yakali lagi pengen inget-inget masa lalu gitu. Dikasih orang juga sayang. Setiap orang kan beda-beda ya cara pakainya. Saya termasuk yang merawat hape dengan baik.

Ini ada fotonya, tapi karena sebagian sudah tidak diketahui keberadaannya, yang masih ada aja ya.
*Catatan: hape yang paling kiri bukan hape saya. Sumpah! Haha...

Itu hape dapet dari kantor abang saya yang satu lagi. Masa hidupnya juga sudah habis.

Friday, 3 October 2014

Best Moment(s) at Twenty-Seven

Throwing back for what i had done during my 27 year-old existence, I found that my life was blessed (I don't want to say it best yet). I got so many lessons to learn and experiences. This is the right time for being grateful for everything that had come into my life.

Here are my best moments:

October, 2013:

I took part in a run competition held by a State Bank together with my colleagues. I took the 5kms run instead of 10 kms. I beat 5 kilometres and it felt good! So far, this has been an achievement for me.  Hehe!

The next best thing happened at the same month was the performance of Gandini Juggling. My friend Risha invited me to watch this performance and i never regreted it. The performance was awesome! The very next time they come here, I suggest you to grab the ticket and watch them. This one? I got it free! *grin



March, 2014

I had a trip to Hong Kong this month. Yay, finally! I had been waiting for this trip like almost 3 years. About my trip, you can visit my post entitled Itinerary Hong Kong untuk 4D/3N

How can I not feel grateful seeing this amazing scenery live omw to HK?


(Bro-Sis portrait)
I can't believe it! My bro and I used to quarrel every single day back then when we were children. (Oh yeah, my mom was so stressful at that time hehe!). I always remember that one day, when he made me cry and a second later, he made a joke and I laughed out loud while my tears were still dropping down. Brother, you made my days! *kisskiss

May, 2014

We had a family trip to Bandungan, Central Java. The car was packed up with my parents, brother, uncle, aunts, and cousins. The place was nice but the most important thing was that we could have a quality time together. Here, I give you some pics.

View from Bandungan

The following day, my bro, my cousin and I chased sunrise in Punthuk Sethumbu.

Besides the things stated above, I must appreciate myself for I am now able to read Koran better with a lil Tajwid in it. (Yes, I could not read Koran before haha!)

And, I started my own blog. Yayness!

About the lesson to learn, I found that my 27-year-old was the moment of truth. I mean, everything that I hate seemed approaching me. Like, (almost) everything. The law of attraction was haunting me. (No, it's not the law of attraction in a positive way like my previous post). So, probably it is the time to be mature, not to hate everything too much cause it may come to my life anytime. And I shall go easy on life (sometimes).

Thanks to my cluster colleagues who have always cheered me up and filled my days with (too much) laughter (sometimes) and it usually ended up with having bad luck during our trip back home. Haha!
Guys, I feel blessed to have you all here. (I really want to post their picture here, but I appreciate their permission first)

And thanks to the people who have brought me to feel my first experience to do everything. Yes, you!

So, let's start another year with a better wish! I wish you have better year as well ;-)

Sources: Personal Collection, Pinterest

Thursday, 25 September 2014

Aku (Bukan) Anak Pramuka

Saya mau melakukan pengakuan dosa nih. Saya nggak pernah ikut Pramuka. Iya, nggak pernah. Nggak pernah menekuni sampai ke tingkat tertentu. Kebetulan dari jaman SD sampai SMP, saya sekolah di sekolah swasta dan happily mereka nggak segitunya fokus sama Pramuka. Jadi, sekedar ada saja.

Sekedar ke Cibubur untuk kegiatan Pramuka, ya pernah. Persami? Belum
Sekedar tau semafor, ya tau. Simpul juga (pernah) tau. Tepuk Pramuka apa lagi.
Pernah punya tongkat yang tingginya melebihi saya jaman SD-SMP juga (entah udah kemana itu tongkat, mungkin udah jadi penyangga buat ngecor rumah :D)

Jaman SMP, semua murid kelas I wajib ikut Pramuka. Berdiri apel jam 12 siang setiap hari Sabtu. Bayangin, dijemur panas-panas . Itu aja sih yang saya inget, nggak inget ada pengalaman oke waktu itu.

Ngomong-ngomong tentang Pramuka ya, sebenernya sih saya agak bingung apa poin dari kegiatan Pramuka selain cari jodoh (yakali ada yang dapet jodoh dari Pramuka. Ngelantur kejauhan). Belajar survival di alam gitu ya? Atau itu tahapan awal menuju anak pecinta alam? Biar bisa bangun tenda di alam terbuka, jadi pemanjat gunung, atau sekedar meningkatkan rasa keberanian terutama pas jurit malam.

Di kota besar ini, saya jarang melihat fungsi dari orang-orang yang ikut Pramuka. Tapi kalau ke daerah, saya sering melihat orang berbaju Pramuka yang membantu mengatur lalu lintas atau membantu orang menyeberang.

Entah mengapa, Pramuka di daerah semacam lebih berfungsi dan berfaedah. Sebenernya sih berfungsi aja kali ya, cuma nggak ada aja orang di kota besar yang sengaja mengenakan pakaian Pramuka di jalan dan membantu sesama.

Yah, balik lagi, apapun itu yang diikuti atau dipelajari pasti ada faedahnya ya, meskipun hanya sekedar tahu.

Ngomongin Pramuka jadi inget simpul, terus inget video klip yang dikasih teman arisan blogger  Amelia. Duet Ylvis berjudul Trucker's Hitch ini menceritakan bahwa mereka bisa semua simpul kecuali satu yang paling sulit, yaitu Trucker's Hitch. Baca komentar di bawah, ada anak yang jadi bisa bikin simpul ini karena nonton video klip Ylvis. Lucu ya?




*)Saya siap menjadi orang dengan posting paling buruk tentang tema ini. Emang nggak punya pengalaman tentang Pramuka, aku kudu piye? :'(

Monday, 22 September 2014

Mengejar Sunrise di Punthuk Setumbu

Niat hati menunaikan janji untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan mengejar sunrise. Lupa. Ingat. Lupa. Ingat. Ah ya, pembaca pasti tahu saya terkena shoert-term memory syndrome dan sedikit moody. Jadi, lupa.

Sampai akhirnya Niwa si kucing laper menyebut blog Rahne Putri. Ketika saya membukanya, hati saya tergugah. Rahne membuat beberapa post tentang perjalanannya di Indonesia dan mempromosikan #Indonesiaonly sebagai bentuk kebanggan kita. Why don't I contribute to that movement?

03.00 AM
Alarm membangunkan saya. Bukan, bukan alarm yang membuat saya bersemangat bangun tapi rasa penasaran saya tentang suatu tempat melihat sunrise yang dipromosikan sama sepupu saya yang hobi motor trail itu.

03.30 AM
Berbekal mata kriyep-kriyep dan minuman, berangkatlah saya, Abang saya, dan sepupu saya dari Jogja. Perjalanan ke arah Magelang di pagi buta terasa sepi.

Arah candi Borobudur sudah dilewati, sepupu saya terus melaju hingga ke arah hotel Aman Jiwo (pasti tahu ya, hotel dengan nama Aman pasti mahalnya bolak-balik Jakarta-Turki buat harga semalem). Niat hati ingin cek in path di hotel ini, tapi lupa. Emang niat busuk kadang gak dibolehin ya hehe!

Kemudian kami jalan terus hingga ke arah Punthuk Setumbu.

04.30 AM
Akhirnya, sampailah kami sampai di batas akhir jalan yang bisa dilalui mobil. Jangan bersedih, petualangan baru dimulai. Perjalanan mendaki. Yak, tanpa penerangan. Dibantu power-bank-segede-batu-bata punya Abang yang ada senternya, kami mendaki dengan selamat. (Lagi-lagi, terpujilah pembuat power bank berikut senter).

Inilah saat-saat kami menunggu sunrise. Semua sudah pasang kuda-kuda alias pegang kamera. Inilah momen yang mendahului datangnya si pemberi cahaya dunia, matahari.

(View dari Punthuk Setumbu, Magelang)

Lihat dua cahaya di sebelah kanan? Itu cahaya yang berasal dari Candi Borobudur :). Dan ya, itu berkabut. Gunung yang sebelah kiri Merbabu, dan yang kanan dan berasap Merapi. 

05.00 AM 
Datanglah si matahari yang ditunggu-tunggu. 

So, how is it? Breathtaking scenery, isn't it? Ini di Indonesia, loh, sekedar mengingatkan.  #Indonesiaonly

Masih ada beberapa shot yang saya ambil dan sayang kalau terlewat untuk dipajang :)
(Pssst, semua tanpa editing)



Ketika saya melihat pemandangan di atas live dari mata, satu hal yang ada di pikiran dan hati saya. Saya bersyukur atas segala kemampuan dan kapasitas yang saya miliki hingga saya bisa berdiri di Punthuk Setumbu. 

Saya bersyukur punya mata yang bisa melihat God's masterpiece langsung. Saya punya kaki yang sehat yang bisa membawa saya mendaki sedikit hingga ke tempat melihat sunrise. Saya punya saudara yang tahu tempat ini, dan bersedia mengantar. Saya punya Abang yang selalu bersemangat untuk berpetualang walaupun harus bangun jam 3 pagi. Last but not least, terima kasih kepada mobilnya saudara saya yang bagus nan boros bensin yang sudah membawa saya ke tempat tersebut dengan lincahnya. Hehe!

Bersyukur tidak harus selalu ketika melihat sesuatu/seseorang berada di bawah kita. Ya kan?

Friday, 19 September 2014

Thing(s) I Cannot Live Without

Tantangan berikutnya: Thing(s) I Cannot Live Without

Kalau pertanyaannya diajukan akhir-akhir ini, di kala undangan pernikahan dan lahiran berdatangan bak jamur di musim hujan, yaaa, pilihan saya adalah GPS!

Yak, entah sudah berapa lama saya menggantungkan hidup saya sama benda ini. Terpujilah pencipta GPS di telepon seluler. Sampe jalan tikus dan alternatif pun, benda satu ini paham betul.

Walaupun sebenarnya saya pernah dikecewakan juga sih. Masa iya, perginya bisa sampai dengan selamat, baliknya saya nyasar ke tempat antah berantah. Yang itu total failure sih.

Anyway, itu sebetulnya pembuka aja sih.


This is the real answer of the thing I cannot live without during my 27 yo (nearly 28 *sigh) existence.

*drum rolls

It is GOOD FOOD!
*Wow, It rhymes

Yep, good food. Who doesn't need food anyway? Yet in this case, I specifically say "good food". Some people say they eat to live, while some say they live to eat. Actually, I'm not both of them since we should balance things in this life.

Back then, I ate out in the restaurants very often but lately, I figured out that actually food were just the same but indeed, some of them did taste better. But what then? That's it.

As I grow older, I become wiser (bhaha!). So, this time, i limit those fancy food (yes, i run the austerity program as well haha!). Sometimes, I suddenly craved for something and felt like I gotta get it right now. But actually, if i resist my temptation, I survived!

Well yes, that food sticks on my mind like you, but that's fine. Still, once in a while I have to fulfill my wish. Once in a while. Bhahaha~ (my friends will laugh out loud if I say this)

So, these are my most favourite dishes ever and the restaurants:
Beware! My friend says that my favourite dishes mostly have bold taste

1. Mie Kangkung Terasi ~ Kopitiam QQ
    The spiciness, hot noodle together with the prawn and fish ball and squid.



2. Lasagna ~ Happy Day or that red hut restaurant (but it's quite pricey now)
    You can see the mozarella cheese on the top. Pssstt, it has mushroom inside. Yum!


3. Anything ~ Pancious,
    Literally anything. I love the chili prawn, the original pancake with the butter and maple syrup, the baileys pancake, even the caesar salad. I even have the benefit card here *tee-hee
 


4. Mabo Tofu Udon ~ Sushi Tei
    This udon has spicy taste. Never feel guilty for eating this because it contains four kinds of mushrooms and tofu only. Nothing to worry about the cholestrol, baby *sluuuurrp


5. The last but not least, Fried Cassava ~ Abang-Abang gorengan
   Who can resist the savory taste, crispiness on the outside and smooth texture inside? Hehe!


Are you drooling? Cause I can see it.

Sunday, 14 September 2014

Babies Review

Melihat posting teman yang bahasanya bagus, baik, dan benar lagi mengikuti kaidah EYD dan KBBI, hendaknya saya akan memulai dengan bahasa demikian.

Tema kocokan minggu ini sudah keluar. Baby.

Yup, baby. Sudah bisa ditebak, yang mengajukan tema ini pasti perempuan yang sudah memiliki anak, bukan? Sementara si pengusul tema sudah menyelesaikan tantangan hanya dalam waktu 3 jam setelah pengocokan, saya (lagi-lagi) berpikir keras dan bertanya “kenapa nggak single-friendly, sih?”

Kocokan sudah dilakukan, tema sudah bergulir. Mari selesaikan.


Ingat dulu ada film berjudul “Babies” keluaran tahun 2010? Saat itu, saya “dipaksa” seorang sahabat untuk menonton film tersebut. Tak banyak yang bisa diceritakan. Hanya semacam film dokumenter yang menceritakan bagaimana bayi-bayi dari berbagai ras dibesarkan. Saya pun tak banyak ingat, selain karena saya memang tipe orang yang mudah lupa.

Singkat kata, saya menonton film itu setelah lulus kuliah, yang tentunya sudah terinternalisasi idealisme jurusan saya, sastra. Melihat segala sesuatu bisa dari sudut pandang yang berbeda. Sejak setelah menonton film itu, saya pun ingin berbagi pemikiran saya tentang film tersebut, tapi belum mengenal blog. Mungkin ini saatnya.

Kembali ke film “Babies”, dari empat bayi tersebut (bayi Afrika, Mongolia, Jepang, dan Amerika), hanya 2 bayi yang saya ingat dengan jelas, bayi Afrika dan Amerika. Di film itu digambarkan bagaimana bayi di Afrika dibesarkan, dengan pakaian seadanya, tanpa kemewahan, lebih banyak adegan outdoor. Sementara bayi yang lain dibesarkan di sebuah rumah (kalau tidak salah).

Satu adegan yang paling saya ingat, yaitu adegan memandikan bayi. Bagaimana ibu dari bayi Afrika membersihkan atau memandikan anaknya. Hanya menggunakan mulut untuk membersihkan mata anaknya. (Untuk beberapa scene, saya masih mengingatnya dengan jelas.) Air pun sulit didapat.

Hygiene menjadi masalah publik. Ibunya tidak mengenakan pakaian atas. Anaknya menyusu langsung dari ibunya, tanpa ada proses pembersihan terlebih dahulu sementara mereka tinggal lebih banyak di ruang terbuka yang bergurun pasir dan panas. Penggambaran rumahnya pun sederhana.

Sementara itu, bayi Amerika terlihat sangat bahagia. Dia mandi kamar mandi dengan interior yang bagus, mandi dengan menggunakan shower. Si bayi tertawa bahagia.

Melihat dua adegan ini, entah kenapa, saya mulai berpikir berbeda. Film ini tidak lagi menyenangkan buat saya. Walaupun film ini menggambarkan keadaan sebenar-benarnya. Penggambaran adegan mandi yang berbeda di setiap negara seolah-olah semakin menguatkan ketimpangan yang ada. Menguatkan kesan Amerika Serikat sebagai negara maju dan Afrika sebagai negara berkembang.

Secara sederhana, saya ingin mengungkapkan, “we all already know that’s the fact, it truly happens in this world, but you don’t need to highlight it even more. Even through a movie, a simple and easiest way to deliver the ideology to the public.”

Ya mungkin memang hanya saya yang berpikir demikian. Beberapa kali saya berdiskusi dengan teman, mereka menonton begitu saja tanpa ada pendapat seperti saya. Saya kurang kerjaan mungkin (hehe!). Tapi, sayang juga sebenarnya kalau kemudian film diperlakukan “take it for granted.”

Karena dalam beberapa film, sejarah ditulis ulang yang tentunya dengan alur cerita yang berbeda dengan aslinya. Sejarah dibuat sesuai dengan sudut pandang si pembuat dan cerita tersebut bisa dianggap benar secara tidak sadar dan disebarluaskan. Keadaan seperti ini yang memudahkan pembuat film untuk menyebarkan ideologi dengan mudahnya.

Hidup ini bagaikan yin dan yang. Begitu pula sudut pandang akan suatu hal.

Ah, sudah pukul 16.00 rupanya. Mari minum kopi bersama!




Sumber: mahatau Google, Pinterest

Thursday, 4 September 2014

Hukum Tarik-Menarik (The Law of Attraction)



Percaya sama adanya “the law of attraction?” Ini, definisi menurut wikipedia:

The law of attraction is the name given to the belief that "like attracts like" and that by focusing on positive or negative thoughts, one can bring about positive or negative results

Intinya, seseorang bisa menarik hal-hal yang dia inginkan, bisa positif atau negatif.
Di kasus saya, seseorang bisa menarik orang lain yang memiliki karakter atau pemikiran yang persis dengan dirinya. Saya percaya akan hal itu karena itu terjadi dalam kehidupan saya (dan teman-teman mungkin).

Berawal dari pertemuan tadi malam dengan teman-teman jaman belajar bahasa Perancis di IFI. Ceritanya, Tasja mau menyebar undangan nikah (yeheee, semangat ya, cherie!). Kami ngobrol sana-sini, sampailah di satu topik dimana Aline (teman saya yang lain) cerita kalau dia selalu bertemu dengan perempuan-perempuan yang super, self-fulfilled, apa yaaa, yang mandiri dan sukses. Semacam itu. 

Kemudian, saya berpikir, ternyata “the law of attraction” itu benar adanya karena saya pun merasakan hal yang sama. Buktinya, saya dipertemukan dengan mereka. Jadi, temen-temen sekelas di IFI yang sering kontak tinggal kami berlima; saya, Tasja, Aline, Rachel, dan Maida. 

Out of these five people, Maida just got married to her Dutch man, Tasja is about to get married to her French man and the rest are still single. They are not getting married at young age, if i may say in a polite way. No, no. Not that there are no men who are attracted to them, it’s just they are too busy with their own life and work and they forget that “one thing.” 

Aline, she is just too smart and too cool and too courageous and confident. Imagine, she can stand tall with dignity and say what’s right and what’s wrong in front of his foreign boss (even when her boss gets mad). Really? Dia keren banget bisa begitu di tengah-tengah keadaan mental orang kita yang suka “menyembah” orang luar (terutama Barat) dan merendahkan bangsa sendiri. 

*Jadi inget kasus Duta Besar Indonesia yang diperlakukan “beda” sama ground staff salah satu airlines padahal si ground staff juga orang Indonesia!

Balik lagi, temen saya yang satunya, Maida. She’s just smart and a good marketer di salah satu perusahaan kimia. She travels a lot (business trip). Ke Vietnam kaya ke Depok, ke Philippines kaya ke Bandung, ke Paris kaya ke Semarang. 

Yang satunya, Rachel. Ya ampun, she’s pretty! She quited her job with a very good salary and chose to be a lecturer instead. How cool is that? Masa nggak ada cowok yang ngelirik sih? 

Terakhir, Tasja. My exotic friend, who is a fashionista! Iya deh, she’s obsessed with one-colour outfit. Baju, sepatu, semuanya kudu satu warna, klo nggak, dia akan cari itu padanannya! (Sekarang ini, dia lagi galau banget cari benda warna putih buat padanan kebaya nikahannya). Belom lagi, dia tau merek make-up yang bahkan saya baru denger. 

Saya? Saya sih sebenernya biasa-biasa aja, tidak sekeren mereka juga. Entah kenapa, saya “menarik” mereka dan mereka “menarik” saya dan ketika diskusi, langsung nyambung. Lihat bagaimana polanya bisa terbentuk. Makanya, saya belum berhenti jadi jomblo. (Lah! Nyalahin! Haha). 

Sama mereka, saya bisa bahas apapun, dari mulai kerjaan, politik, sampe yang aneh-aneh di sosial media. They are broad-knowledge people with very good brain and thought. We usually discuss from A to Z, different topics and we never get bored. They are great women with big dreams. Dreams yaa, bukan Drama hehe! Enggak, ini bukan masalah dipertemukan di satu komunitas yang suka satu hal ya. Buktinya, ada juga temen sekelas di IFI yang sampai sekarang udah nggak berhubungan lagi. 

Intinya, kita dipertemukan dengan orang-orang yang mirip dengan kita. Dari sekian banyak yang lewat di kehidupan kita, kita memilih/dipilih dan menyeleksi/diseleksi secara alam bawah sadar untuk kemudian menjadi teman yang cuma sekedar "say hi" atau yang deket banget sampai bisa berbagi pemikiran yang tidak biasa.

Jadi, percaya kan kalo subconsciously, we attract people similar to us?

Picture: http://westcoastkeish.com/law-attraction-real-yall/