Thursday, 25 September 2014

Aku (Bukan) Anak Pramuka

Saya mau melakukan pengakuan dosa nih. Saya nggak pernah ikut Pramuka. Iya, nggak pernah. Nggak pernah menekuni sampai ke tingkat tertentu. Kebetulan dari jaman SD sampai SMP, saya sekolah di sekolah swasta dan happily mereka nggak segitunya fokus sama Pramuka. Jadi, sekedar ada saja.

Sekedar ke Cibubur untuk kegiatan Pramuka, ya pernah. Persami? Belum
Sekedar tau semafor, ya tau. Simpul juga (pernah) tau. Tepuk Pramuka apa lagi.
Pernah punya tongkat yang tingginya melebihi saya jaman SD-SMP juga (entah udah kemana itu tongkat, mungkin udah jadi penyangga buat ngecor rumah :D)

Jaman SMP, semua murid kelas I wajib ikut Pramuka. Berdiri apel jam 12 siang setiap hari Sabtu. Bayangin, dijemur panas-panas . Itu aja sih yang saya inget, nggak inget ada pengalaman oke waktu itu.

Ngomong-ngomong tentang Pramuka ya, sebenernya sih saya agak bingung apa poin dari kegiatan Pramuka selain cari jodoh (yakali ada yang dapet jodoh dari Pramuka. Ngelantur kejauhan). Belajar survival di alam gitu ya? Atau itu tahapan awal menuju anak pecinta alam? Biar bisa bangun tenda di alam terbuka, jadi pemanjat gunung, atau sekedar meningkatkan rasa keberanian terutama pas jurit malam.

Di kota besar ini, saya jarang melihat fungsi dari orang-orang yang ikut Pramuka. Tapi kalau ke daerah, saya sering melihat orang berbaju Pramuka yang membantu mengatur lalu lintas atau membantu orang menyeberang.

Entah mengapa, Pramuka di daerah semacam lebih berfungsi dan berfaedah. Sebenernya sih berfungsi aja kali ya, cuma nggak ada aja orang di kota besar yang sengaja mengenakan pakaian Pramuka di jalan dan membantu sesama.

Yah, balik lagi, apapun itu yang diikuti atau dipelajari pasti ada faedahnya ya, meskipun hanya sekedar tahu.

Ngomongin Pramuka jadi inget simpul, terus inget video klip yang dikasih teman arisan blogger  Amelia. Duet Ylvis berjudul Trucker's Hitch ini menceritakan bahwa mereka bisa semua simpul kecuali satu yang paling sulit, yaitu Trucker's Hitch. Baca komentar di bawah, ada anak yang jadi bisa bikin simpul ini karena nonton video klip Ylvis. Lucu ya?




*)Saya siap menjadi orang dengan posting paling buruk tentang tema ini. Emang nggak punya pengalaman tentang Pramuka, aku kudu piye? :'(

Monday, 22 September 2014

Mengejar Sunrise di Punthuk Setumbu

Niat hati menunaikan janji untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan mengejar sunrise. Lupa. Ingat. Lupa. Ingat. Ah ya, pembaca pasti tahu saya terkena shoert-term memory syndrome dan sedikit moody. Jadi, lupa.

Sampai akhirnya Niwa si kucing laper menyebut blog Rahne Putri. Ketika saya membukanya, hati saya tergugah. Rahne membuat beberapa post tentang perjalanannya di Indonesia dan mempromosikan #Indonesiaonly sebagai bentuk kebanggan kita. Why don't I contribute to that movement?

03.00 AM
Alarm membangunkan saya. Bukan, bukan alarm yang membuat saya bersemangat bangun tapi rasa penasaran saya tentang suatu tempat melihat sunrise yang dipromosikan sama sepupu saya yang hobi motor trail itu.

03.30 AM
Berbekal mata kriyep-kriyep dan minuman, berangkatlah saya, Abang saya, dan sepupu saya dari Jogja. Perjalanan ke arah Magelang di pagi buta terasa sepi.

Arah candi Borobudur sudah dilewati, sepupu saya terus melaju hingga ke arah hotel Aman Jiwo (pasti tahu ya, hotel dengan nama Aman pasti mahalnya bolak-balik Jakarta-Turki buat harga semalem). Niat hati ingin cek in path di hotel ini, tapi lupa. Emang niat busuk kadang gak dibolehin ya hehe!

Kemudian kami jalan terus hingga ke arah Punthuk Setumbu.

04.30 AM
Akhirnya, sampailah kami sampai di batas akhir jalan yang bisa dilalui mobil. Jangan bersedih, petualangan baru dimulai. Perjalanan mendaki. Yak, tanpa penerangan. Dibantu power-bank-segede-batu-bata punya Abang yang ada senternya, kami mendaki dengan selamat. (Lagi-lagi, terpujilah pembuat power bank berikut senter).

Inilah saat-saat kami menunggu sunrise. Semua sudah pasang kuda-kuda alias pegang kamera. Inilah momen yang mendahului datangnya si pemberi cahaya dunia, matahari.

(View dari Punthuk Setumbu, Magelang)

Lihat dua cahaya di sebelah kanan? Itu cahaya yang berasal dari Candi Borobudur :). Dan ya, itu berkabut. Gunung yang sebelah kiri Merbabu, dan yang kanan dan berasap Merapi. 

05.00 AM 
Datanglah si matahari yang ditunggu-tunggu. 

So, how is it? Breathtaking scenery, isn't it? Ini di Indonesia, loh, sekedar mengingatkan.  #Indonesiaonly

Masih ada beberapa shot yang saya ambil dan sayang kalau terlewat untuk dipajang :)
(Pssst, semua tanpa editing)



Ketika saya melihat pemandangan di atas live dari mata, satu hal yang ada di pikiran dan hati saya. Saya bersyukur atas segala kemampuan dan kapasitas yang saya miliki hingga saya bisa berdiri di Punthuk Setumbu. 

Saya bersyukur punya mata yang bisa melihat God's masterpiece langsung. Saya punya kaki yang sehat yang bisa membawa saya mendaki sedikit hingga ke tempat melihat sunrise. Saya punya saudara yang tahu tempat ini, dan bersedia mengantar. Saya punya Abang yang selalu bersemangat untuk berpetualang walaupun harus bangun jam 3 pagi. Last but not least, terima kasih kepada mobilnya saudara saya yang bagus nan boros bensin yang sudah membawa saya ke tempat tersebut dengan lincahnya. Hehe!

Bersyukur tidak harus selalu ketika melihat sesuatu/seseorang berada di bawah kita. Ya kan?

Friday, 19 September 2014

Thing(s) I Cannot Live Without

Tantangan berikutnya: Thing(s) I Cannot Live Without

Kalau pertanyaannya diajukan akhir-akhir ini, di kala undangan pernikahan dan lahiran berdatangan bak jamur di musim hujan, yaaa, pilihan saya adalah GPS!

Yak, entah sudah berapa lama saya menggantungkan hidup saya sama benda ini. Terpujilah pencipta GPS di telepon seluler. Sampe jalan tikus dan alternatif pun, benda satu ini paham betul.

Walaupun sebenarnya saya pernah dikecewakan juga sih. Masa iya, perginya bisa sampai dengan selamat, baliknya saya nyasar ke tempat antah berantah. Yang itu total failure sih.

Anyway, itu sebetulnya pembuka aja sih.


This is the real answer of the thing I cannot live without during my 27 yo (nearly 28 *sigh) existence.

*drum rolls

It is GOOD FOOD!
*Wow, It rhymes

Yep, good food. Who doesn't need food anyway? Yet in this case, I specifically say "good food". Some people say they eat to live, while some say they live to eat. Actually, I'm not both of them since we should balance things in this life.

Back then, I ate out in the restaurants very often but lately, I figured out that actually food were just the same but indeed, some of them did taste better. But what then? That's it.

As I grow older, I become wiser (bhaha!). So, this time, i limit those fancy food (yes, i run the austerity program as well haha!). Sometimes, I suddenly craved for something and felt like I gotta get it right now. But actually, if i resist my temptation, I survived!

Well yes, that food sticks on my mind like you, but that's fine. Still, once in a while I have to fulfill my wish. Once in a while. Bhahaha~ (my friends will laugh out loud if I say this)

So, these are my most favourite dishes ever and the restaurants:
Beware! My friend says that my favourite dishes mostly have bold taste

1. Mie Kangkung Terasi ~ Kopitiam QQ
    The spiciness, hot noodle together with the prawn and fish ball and squid.



2. Lasagna ~ Happy Day or that red hut restaurant (but it's quite pricey now)
    You can see the mozarella cheese on the top. Pssstt, it has mushroom inside. Yum!


3. Anything ~ Pancious,
    Literally anything. I love the chili prawn, the original pancake with the butter and maple syrup, the baileys pancake, even the caesar salad. I even have the benefit card here *tee-hee
 


4. Mabo Tofu Udon ~ Sushi Tei
    This udon has spicy taste. Never feel guilty for eating this because it contains four kinds of mushrooms and tofu only. Nothing to worry about the cholestrol, baby *sluuuurrp


5. The last but not least, Fried Cassava ~ Abang-Abang gorengan
   Who can resist the savory taste, crispiness on the outside and smooth texture inside? Hehe!


Are you drooling? Cause I can see it.

Sunday, 14 September 2014

Babies Review

Melihat posting teman yang bahasanya bagus, baik, dan benar lagi mengikuti kaidah EYD dan KBBI, hendaknya saya akan memulai dengan bahasa demikian.

Tema kocokan minggu ini sudah keluar. Baby.

Yup, baby. Sudah bisa ditebak, yang mengajukan tema ini pasti perempuan yang sudah memiliki anak, bukan? Sementara si pengusul tema sudah menyelesaikan tantangan hanya dalam waktu 3 jam setelah pengocokan, saya (lagi-lagi) berpikir keras dan bertanya “kenapa nggak single-friendly, sih?”

Kocokan sudah dilakukan, tema sudah bergulir. Mari selesaikan.


Ingat dulu ada film berjudul “Babies” keluaran tahun 2010? Saat itu, saya “dipaksa” seorang sahabat untuk menonton film tersebut. Tak banyak yang bisa diceritakan. Hanya semacam film dokumenter yang menceritakan bagaimana bayi-bayi dari berbagai ras dibesarkan. Saya pun tak banyak ingat, selain karena saya memang tipe orang yang mudah lupa.

Singkat kata, saya menonton film itu setelah lulus kuliah, yang tentunya sudah terinternalisasi idealisme jurusan saya, sastra. Melihat segala sesuatu bisa dari sudut pandang yang berbeda. Sejak setelah menonton film itu, saya pun ingin berbagi pemikiran saya tentang film tersebut, tapi belum mengenal blog. Mungkin ini saatnya.

Kembali ke film “Babies”, dari empat bayi tersebut (bayi Afrika, Mongolia, Jepang, dan Amerika), hanya 2 bayi yang saya ingat dengan jelas, bayi Afrika dan Amerika. Di film itu digambarkan bagaimana bayi di Afrika dibesarkan, dengan pakaian seadanya, tanpa kemewahan, lebih banyak adegan outdoor. Sementara bayi yang lain dibesarkan di sebuah rumah (kalau tidak salah).

Satu adegan yang paling saya ingat, yaitu adegan memandikan bayi. Bagaimana ibu dari bayi Afrika membersihkan atau memandikan anaknya. Hanya menggunakan mulut untuk membersihkan mata anaknya. (Untuk beberapa scene, saya masih mengingatnya dengan jelas.) Air pun sulit didapat.

Hygiene menjadi masalah publik. Ibunya tidak mengenakan pakaian atas. Anaknya menyusu langsung dari ibunya, tanpa ada proses pembersihan terlebih dahulu sementara mereka tinggal lebih banyak di ruang terbuka yang bergurun pasir dan panas. Penggambaran rumahnya pun sederhana.

Sementara itu, bayi Amerika terlihat sangat bahagia. Dia mandi kamar mandi dengan interior yang bagus, mandi dengan menggunakan shower. Si bayi tertawa bahagia.

Melihat dua adegan ini, entah kenapa, saya mulai berpikir berbeda. Film ini tidak lagi menyenangkan buat saya. Walaupun film ini menggambarkan keadaan sebenar-benarnya. Penggambaran adegan mandi yang berbeda di setiap negara seolah-olah semakin menguatkan ketimpangan yang ada. Menguatkan kesan Amerika Serikat sebagai negara maju dan Afrika sebagai negara berkembang.

Secara sederhana, saya ingin mengungkapkan, “we all already know that’s the fact, it truly happens in this world, but you don’t need to highlight it even more. Even through a movie, a simple and easiest way to deliver the ideology to the public.”

Ya mungkin memang hanya saya yang berpikir demikian. Beberapa kali saya berdiskusi dengan teman, mereka menonton begitu saja tanpa ada pendapat seperti saya. Saya kurang kerjaan mungkin (hehe!). Tapi, sayang juga sebenarnya kalau kemudian film diperlakukan “take it for granted.”

Karena dalam beberapa film, sejarah ditulis ulang yang tentunya dengan alur cerita yang berbeda dengan aslinya. Sejarah dibuat sesuai dengan sudut pandang si pembuat dan cerita tersebut bisa dianggap benar secara tidak sadar dan disebarluaskan. Keadaan seperti ini yang memudahkan pembuat film untuk menyebarkan ideologi dengan mudahnya.

Hidup ini bagaikan yin dan yang. Begitu pula sudut pandang akan suatu hal.

Ah, sudah pukul 16.00 rupanya. Mari minum kopi bersama!




Sumber: mahatau Google, Pinterest

Thursday, 4 September 2014

Hukum Tarik-Menarik (The Law of Attraction)



Percaya sama adanya “the law of attraction?” Ini, definisi menurut wikipedia:

The law of attraction is the name given to the belief that "like attracts like" and that by focusing on positive or negative thoughts, one can bring about positive or negative results

Intinya, seseorang bisa menarik hal-hal yang dia inginkan, bisa positif atau negatif.
Di kasus saya, seseorang bisa menarik orang lain yang memiliki karakter atau pemikiran yang persis dengan dirinya. Saya percaya akan hal itu karena itu terjadi dalam kehidupan saya (dan teman-teman mungkin).

Berawal dari pertemuan tadi malam dengan teman-teman jaman belajar bahasa Perancis di IFI. Ceritanya, Tasja mau menyebar undangan nikah (yeheee, semangat ya, cherie!). Kami ngobrol sana-sini, sampailah di satu topik dimana Aline (teman saya yang lain) cerita kalau dia selalu bertemu dengan perempuan-perempuan yang super, self-fulfilled, apa yaaa, yang mandiri dan sukses. Semacam itu. 

Kemudian, saya berpikir, ternyata “the law of attraction” itu benar adanya karena saya pun merasakan hal yang sama. Buktinya, saya dipertemukan dengan mereka. Jadi, temen-temen sekelas di IFI yang sering kontak tinggal kami berlima; saya, Tasja, Aline, Rachel, dan Maida. 

Out of these five people, Maida just got married to her Dutch man, Tasja is about to get married to her French man and the rest are still single. They are not getting married at young age, if i may say in a polite way. No, no. Not that there are no men who are attracted to them, it’s just they are too busy with their own life and work and they forget that “one thing.” 

Aline, she is just too smart and too cool and too courageous and confident. Imagine, she can stand tall with dignity and say what’s right and what’s wrong in front of his foreign boss (even when her boss gets mad). Really? Dia keren banget bisa begitu di tengah-tengah keadaan mental orang kita yang suka “menyembah” orang luar (terutama Barat) dan merendahkan bangsa sendiri. 

*Jadi inget kasus Duta Besar Indonesia yang diperlakukan “beda” sama ground staff salah satu airlines padahal si ground staff juga orang Indonesia!

Balik lagi, temen saya yang satunya, Maida. She’s just smart and a good marketer di salah satu perusahaan kimia. She travels a lot (business trip). Ke Vietnam kaya ke Depok, ke Philippines kaya ke Bandung, ke Paris kaya ke Semarang. 

Yang satunya, Rachel. Ya ampun, she’s pretty! She quited her job with a very good salary and chose to be a lecturer instead. How cool is that? Masa nggak ada cowok yang ngelirik sih? 

Terakhir, Tasja. My exotic friend, who is a fashionista! Iya deh, she’s obsessed with one-colour outfit. Baju, sepatu, semuanya kudu satu warna, klo nggak, dia akan cari itu padanannya! (Sekarang ini, dia lagi galau banget cari benda warna putih buat padanan kebaya nikahannya). Belom lagi, dia tau merek make-up yang bahkan saya baru denger. 

Saya? Saya sih sebenernya biasa-biasa aja, tidak sekeren mereka juga. Entah kenapa, saya “menarik” mereka dan mereka “menarik” saya dan ketika diskusi, langsung nyambung. Lihat bagaimana polanya bisa terbentuk. Makanya, saya belum berhenti jadi jomblo. (Lah! Nyalahin! Haha). 

Sama mereka, saya bisa bahas apapun, dari mulai kerjaan, politik, sampe yang aneh-aneh di sosial media. They are broad-knowledge people with very good brain and thought. We usually discuss from A to Z, different topics and we never get bored. They are great women with big dreams. Dreams yaa, bukan Drama hehe! Enggak, ini bukan masalah dipertemukan di satu komunitas yang suka satu hal ya. Buktinya, ada juga temen sekelas di IFI yang sampai sekarang udah nggak berhubungan lagi. 

Intinya, kita dipertemukan dengan orang-orang yang mirip dengan kita. Dari sekian banyak yang lewat di kehidupan kita, kita memilih/dipilih dan menyeleksi/diseleksi secara alam bawah sadar untuk kemudian menjadi teman yang cuma sekedar "say hi" atau yang deket banget sampai bisa berbagi pemikiran yang tidak biasa.

Jadi, percaya kan kalo subconsciously, we attract people similar to us?

Picture: http://westcoastkeish.com/law-attraction-real-yall/
 

Wednesday, 3 September 2014

Mystique Merapi

Sehubungan dengan tema pengalaman horor aka mistis yang keluar dari kocokan tema blog, saya terpaksa menulis tema tersebut setelah memeras otak pengalaman mistis apa yang pernah saya alami.

Here's the thing, I'm not a fan of horror movie. Like, really? How can I enjoy the movie while I'm trying to cover my face with my hands~avoiding the scene. Let alone experiencing mystique thing myself. Nope, thanks. Denial aja kalo terjadi yang aneh-aneh hehe!

Namun demikian, daripada saya kena punishment karena nggak nulis di blog, yaaa, saya mikir deh nulis apa. Akhirnya, saya dapet ide! Yayness!

Ceritanya, saya punya saudara sepupu cowok yang baiknya minta ampun dan masih jomblo, plus bekerja di salah satu bank negara. Pokoknya high-quality jomblo (Terus kenapa? Ya, promosi dong. Harusnya mah buat saya aja ya? #eh? hehe!). Suatu hari, dia dengan baik hatinya anterin saya muter-muter nggak jelas di Jogja *ahem.

Sepupu saya ini hobi motor trail (saya pun baru tau dia punya hobi itu, sepupu macam apaaah saya? #drama!). Motor trail itu yang di gunung-gunung dengan medan sulit dan motor khusus itu kan ya? Ya pokoknya yang itu deh. Sepupu saya cerita waktu dia lagi suka-suka-nya main motor trail di daerah gunung Merapi. Konon katanya, Gunung Merapi itu agak-agak mistis kan ya? Mari kita buktikan kebenarannya.

Di tengah-tengah panasnya Jogja, dia bercerita....


X: Dulu waktu hobi motor trail, aku sering tuh ke daerah Merapi.

Saya: (hapaaaah? dia hobi motor trail? Emangnya nggak diomelin emaknye?) Om sama Tante tau? (biasa kan ya, di dalem hati apa, yang keluar di mulut apa hahahaha)

X: Tau, tapi cuma diem aja hehe... Kalo main di sana ada penjaganya, yang guide jalurnya, jadi nggak nyasar walaupun jalurnya cuma satu. Biasanya kita rombongan sih, satu rombongan sekitar 10 orang.

X: Pernah suatu hari, aku main di sana. Kebetulan ada dua rombongan dan aku ikut rombongan kedua. Posisiku waktu itu orang paling belakang, pokoknya orang terakhir deh di belakang, nggak ada siapa-siapa lagi. Kalo main kaya gitu susah mau salip-salipan ya, jadi biasanya tetep di posisi masing-masing. Tapi, jarak antar rombongan tetep berdekatan.

X: Tetiba, denger kabar kalau rombongan satu yang di depan itu entah kemana. Bingung kan, akhirnya rombonganku nunggu dulu di satu tempat. Udah nunggu agak lama, akhirnya kita mutusin untuk terus aja, arah pulang. Aneh juga, kok bisa tau-tau rombongan depan nggak ada, padahal kan perginya sama guide yang pasti udah berpengalaman.

X: Waktu itu emang udah sore menjelang maghrib. Kebiasaan di Merapi adalah kalo main motor trail di sana, pas adzan maghrib harus sudah di jalan pulang (nggak boleh masih di jalur naik) dan nggak boleh ngapa-ngapain sampai adzan selesai. Nggak boleh ada suara motor, hape apalagi, semua sunyi, sepi, sendiri (halah, yang ini mah lagu.)

X: Kita udah menempuh jalur tersebut dan masih belum ketemu juga itu rombongan depan. Tiba-tiba, pas hampir sampai, datanglah rombongan satu yang awalnya di depan, mereka jadi di belakang. Padahal jalur yang ditempuh ya itu juga. Terus kita semua bingung, termasuk guide-nya.

Saya: oke, baru denger aja udah merinding. Emang kalo di gunung nggak boleh macem-macem yaaa...

Sebenernya ceritanya banyak, tapi saya tuh mengidap short-term-to-lost-memory syndrome (penyakit sebutan sendiri) ya, jadi cuma tinggal ampasnya (apa ekstraknya?) aja yang tersisa. Tinggal yang ini yang masih dalam ingatan. Nanti kalo orangnya baca, terus ada komen, saya tambahin lagi deh.

Ngomong-ngomong tentang sepupu saya ini, dia ini hits banget tau tempat-tempat keren buat traveler. Jadi pengen cerita plus berbagi foto ngejar sunrise di Punthuk Setumbu di posting berikutnya. Can't wait!