Tuesday, 9 August 2016

Dream Cast

Selamat sore!

Berniat jogging namun langit tak segendang sepenarian dengan saya, jadi menuntaskan utang blog saja. 

Minggu lalu, tema blog yang keluar adalah "Dream Cast." Bicara tentang Dream Cast, ada satu film yang membuat saya kecewa berat karena imajinasi tak sesuai realita.

Siapa yang tidak kenal buku Harry Potter? Saya pecinta Harry Potter, khususnya seri 4, yaitu Harry Potter and the Goblet of Fire. Sepanjang saya membaca buku tersebut, saya jatuh cinta dengan karakter Cedric Diggory. Cedric digambarkan sebagai pria tampan bintang kelas yang pintar dan punya perawakan proporsional (Prefek dan Seeker Quidditch). Sayangnya, orang seperti itu tak lama hidup di dunia (bahkan fiksi). 

Setelah membaca dan jatuh cinta pada Cedric, saya tentunya berharap yang nantinya membintangi Cedric adalah pria yang memenuhi semua kriteria di atas. Hingga, pada akhirnya saya mengetahui bahwa yang membintangi Cedric adalah.... Robbert Pattinson. Bagaikan petir menyambar pohon, saya bete. Apanya yang keren, saudara2?

Baiklah, jika dan hanya jika cast Cedric dapat diganti, saya akan memilih yang jadi Oliver Wood (kapten Quidditch-nya Gryffindor) :3

Cute ya... *taken from Yahoo images
Berhubung, saya agak kurang update mengenai artis pria luar di umur sekolah, saya belum ada ide lagi selain Sean Biggerstaff ini. Punya ide lain?

Thursday, 28 July 2016

Seandainya saya bisa bertemu

Kapan pertama kenal produk Apple?
Saya kenal pada tahun 2008. Ketika itu, saya akan segera memulai kursus bahasa Italia dan saya akan membutuhkan laptop untuk mendukung komunikasi di negeri orang. Setelah survey ke sana - kemari dan mempertimbangkan Toshiba dan Sony. Saya dan abang saya memutuskan untuk membeli Macbook, tetapi yang membeli dia, sih. Iya, begitulah kami kakak-adik absurd

Saat itu, Macbook hanya ada dua warna, yaitu putih dan hitam dan kami memilih warna putih. 
Ini penampakan Macbook kami dulu *pic taken from internet
Setelah membeli Macbook, saya juga mengikuti kursus untuk mengoperasikan Macbook. Dulu masih ada training-nya, mungkin sekarang sudah ditiadakan karena generasi milenial sudah lebih canggih dan cepat belajar hal baru. 

Saya terlanjur cinta dengan Macbook ini karena semua ada di dalam Macbook, hanya tinggal kita mengetahuinya atau tidak. Macbook tidak punya manual book. Jadi, kreatiflah melakukan eksplorasi. Selain itu, garansi Macbook juga internasional dan mudah saja bagi saya untuk mencari bantuan ketika internetnya tidak mau beroperasi waktu itu. Si penjaga toko dengan baiknya membantu saya tanpa biaya. Hehe!

Barang  Apple kedua yang saya beli adalah iPod. Saya ingin sekali membeli iPod karena touchscreen-nya. Saya berpikir sepertinya keren jika jari bisa meluncur di atas layar. Bukan hanya itu, iPod juga dilengkapi kamera, internet, dan bisa untuk instal game! Sempurna kan? 
Selain iPod touch, saya dan abang saya juga punya ipod classic dan iPad. Bukan bermaksud sombong, saya dan abang saya memang dulu apple fans. Sebegitu ngefansnya saya sama produk Apple, sehingga saya mengagumi pria yang telah melahirkan produk Apple waktu itu, yaitu Steve Jobs. Saya sampai membeli buku biografinya. 
 
Saya punya buku ini *pic taken from internet
Kalau ditanya sudah selesai belum? Jawabannya belum, tetapi saya banyak belajar dari Steve Jobs. Salah satu kutipan Steve Jobs yang saya selalu ingat "Simplicity is the ultimate sophistication." Jadi, masih mau ribet?


Kecintaan saya berlanjut setelah tahu Steve Jobs sempat membangun Pixar. Saya semakin cinta buta dan hampir selalu menyempatkan diri nonton film kartun yang dibuat Pixar. Untungnya, film produksi Pixar memang bagus. Jadi, cinta saya nggak buta-buta banget. Pada saat yang sama, ini juga membuktikan kalau segala hal yang dikerjakan Steve Jobs memang berhasil hehe.

Kalau saja saya punya satu kesempatan dalam hidup ingin bertemu siapa, tanpa berpikir panjang, saya mau bertemu Steve Jobs! 

Thursday, 30 June 2016

Tough Choice

Pilih mana? Korea, India, Jepang atau Amerika Latin?

Susah ya, karena semuanya bukan pilihan hidup saya hehehe. Pertama, Korea. Saya bukan fans Korea. Dulu pernah suka banget sama Princess Hours kemudian cinta itu menguap begitu saja. Dalam hal makanan, saya sudah beberapa kali mencoba dan tetap optimis ada makanan Korea yang mungkin saya suka, ternyata fakta berkata lain. Rasa Korea tidak ada dalam range lidah saya. Ini soal selera saja.

Kemudian India. Saya juga bukan fans film Bollywood yang berdurasi 3 jam, apalagi dramanya. Mungkin banyak orang tertarik pergi ke India karena eksotis. Tetapi maaf saja, saya belum memasukkan India ke daftar negara yang ingin saya kunjungi karena... well, you know... Konon katanya, begitu turun di bandara pun, turis sudah disambut dengan holy cow (eh, bukan steak ya). Belum lagi, setelah membaca buku Titik Nol dan mengetahui pria India berani secara terang-terangan meminta hubungan intim dengan turis wanita, saya semakin meletakkan India di daftar terbawah negara yang saya ingin kunjungi. Taj Mahal? Belum menjadi alasan kuat untuk saya ke sana. 

Selanjutnya, Jepang. Saya termasuk orang yang antimainstream, kurang berminat sama Jepang juga. Alasannya karena belum ada sesuatu di Jepang yang menarik saya untuk ke sana. Tidak bahasa, tidak kecantikan alamnya, tidak juga figur imajinasi yang sudah diciptakan. Namun demikian, mungkin ada satu hal yang bisa menarik saya ke Jepang, yaitu makanan! Sushi, takoyaki, ramen bisa memanggil saya ke sana. Tetapi sesungguhnya saya agak sangsi, selain ramen kebanyakan mengandung piggy, rasa sushi yang otentik belum tentu pas di lidah saya. 

Jadi, mungkin pilihan saya jatuh pada Amerika Latin atau lebih tepatnya Brasil. Bukan karena saya suka grup sepak bolanya, tetapi karena acara di Nat Geo People yang berjudul This Is Brasil. Di salah satu episodenya, si mbak cantik yang jadi presenter diajak ke suatu tempat dimana orang lokal Brasil berlatih tarian khas Brasil. Tahu kan tarian berpasangan  dimana si perempuan akan memakai sepatu berhak tinggi dan si laki-laki berotot kuat. Tarian melibatkan "melempar" si perempuan dan perempuan akan mendarat tepat di pelukan pria lain. Setelah itu si perempuan diputar hingga kaki ber-heels di atas dan wajah di bawah. Saya yakin, sewaktu latihan ada memar dimana-mana. 

Bukan hanya tarian, Brasil juga menjadi menarik buat saya karena Brasil punya rasa makanan yang kuat. Terbukti sewaktu saya mencari dan menemukan situs ini. 
Who can resist?

Layers of cookies filled with chocolate or fruit, lemon, coconut, etc
 And, of course
Singkong goreng emang paling TOP!!

Thursday, 23 June 2016

Tentang Hidup Sederhana

Ponsel saya sudah lambat dan batrenya boros, saya ingin ganti ponsel yang lebih baik
Saya ingin punya jam tangan (lagi) untuk ganti-ganti
Tas saya sudah tidak layak dipakai, saya ingin punya tas kulit yang awet

Barang di atas adalah barang yang sebenarnya sedang saya inginkan di dalam lubuk hati saya. Iya, ingin. Saya ingin tas kulit, ponsel baru, dan jam tangan. Tetapi jika dipikirkan lebih lanjut, saya jadi mengurungkan niat saya. Selain karena ada hal lain yang lebih penting, saya pikir keinginan di atas hanya sesaat.

Beberapa minggu yang lalu, saya sedang melakukan pencarian tas untuk ke kantor (ini kebutuhan karena tas saya sudah tidak layak pakai). Saat itu, kebetulan film AADC sedang tayang dan tas mbak Dian menjadi sorotan. Seorang teman memberi tahu saya toko tas tersebut. Jujur saja, saya ingin membeli tas tote dari kulit seharga Rp1,5 juta. Terlepas dari adanya kebutuhan yang lebih penting, saya pikir, saya bisa melakukan pergeseran anggaran atau penghematan demi membeli tas tersebut. Cara lainnya adalah membeli dengan kartu kredit dan mencicilnya selama 6 bulan, menjadi sekitar Rp250 ribuan per bulan. Masih masuk akal, kan? Banget! Sekali jalan ke mall saja bisa menghabiskan uang sekitar itu, kok. 

Selain tas Mbak Disas, saya juga mencari tas merk luar yang memiliki toko di Indonesia. Dapatlah satu tas yang saya suka dengan bahan suede, harganya sekitar Rp1,5 juta (lagi-lagi). Kemudian, saya berpikir, saya bisa mendapatkan harga yang sedikit lebih murah dengan menitip teman di Perancis. Setelah dikurs, harga tas yang sama menjadi Rp1,3 jutaan. Seharusnya bisa saya beli.

Namun demikian, saya berpikir ulang. Mengapa saya harus membeli tas tersebut? Karena tas kulit? Mengapa harus kulit? Bukankah yang terpenting adalah tidak tembus air? Setelah membelinya bagaimana? Saya pengguna angkutan umum. 

Malam itu, udara Jakarta sangat panas dan pengap. Di dalam angkutan umum, saya duduk dekat lampu yang sangat panas, sehingga menambah aktivitas pembakaran kalori saya. Di dalam angkutan, saya terpekur (bahasa Amel), dalam keadaan berkeringat dan berdesakan dengan penumpang di kanan-kiri, bagaimana saya harus menjaga tas saya? Menjaga dalam arti, tidak terkena panas dan hujan langsung, apalagi keringat yang mengandung asam. Belum lagi terkena kotoran lainnya. Kecuali saya naik-turun mobil pribadi, akan lebih susah merawat tas tersebut.

Esok harinya, saya memutuskan. Saya tidak akan membeli tas kulit maupun tas suede seharga Rp1,5 juta tersebut, tetapi membeli tas di toko satunya, yang juga menjadi kandidat yang ingin saya beli. Voila! Saya menggunakan tas saya hari ini. Tas seharga Rp400 ribuan. Cukup buat saya. 

tas baru itu
Rapi ya? :)

Akhir-akhir ini memang saya sedang belajar tentang hidup sederhana. Hidup bukan tentang memuaskan keinginan tetapi cukup pada kebutuhan. Beruntungnya, saya punya ukuran sendiri sampai dimana saya merasa cukup. Ukuran ini yang membuat saya belajar untuk berpuas diri. Karena sekali saja saya menuruti keinginan, tuntutan akan meningkat terus dan lama-lama bisa mencekik diri. No, I don't want to suffer. I want to fill my life with happiness. In my own way.


"Even though one may have material possessions,
if one is mentally poor,
then one will always feel lacking and want more" - Dalai Lama

Thursday, 16 June 2016

Tentang lagu yang membawamu ke masa itu

Ini cerita tentang kami sekitar 4 sampai 5 tahun yang lalu. 
Ketika kami masih lebih muda. 
Ketika kami masih bisa menikmati uang yang didapat untuk membeli kebahagiaan. 
Ketika kami bisa pergi ke mall kelas A setiap minggu.
Ketika kami masih bisa berkumpul untuk bergossip (berghibah) hampir 2 minggu sekali.
Ketika cicilan belum masuk ke dalam daftar kewajiban hidup.
Ketika hidup belum terkotak-kotak

Waktu itu, kami termasuk dalam golongan orang yang sering hura-hura dan pulang malam bersama. Tidak ada anggota tetap, tetapi orang-orang yang bersedia memang pada akhirnya tertentu dan itu-itu saja. 

Ketika itu, semua orang masih belum menunjukkan sifat aslinya, kecuali satu orang. Pada awalnya, saya tidak begitu mengenalnya walaupun pernah satu almamater. Tidak pernah sekalipun familiar dengan mukanya. 

Sampai akhirnya, kami merencanakan agenda untuk karaoke bersama. Saya agak lupa, apakah itu karaoke traktiran seorang teman yang sedang ulang tahun atau acara lain. Tetapi, saya menjadi terus mengingat sosok itu dan mengidentikkan dirinya dengan lagu tersebut. 

Tetiba dia meminta sebuah lagu dan tiba gilirannya menyanyi semacam orang kerasukan:

Sejujurnya ku tak bisaaa
Hidup tanpa ada kamu aku gilaaa
Seandainya kamu bisaaa
Mengulang kembali lagi cinta kitaaa



*kemudian saya melirik si pemiliki suara
Jangan bayangkan wajah saya secantik ini sewaktu menoleh ke dia


Dia yang membuat saya tertegun, terperanjak, dan terkaget-kaget. Dia adalah Pradany Hayyu, 28, penggila es batu, fans Firman.

Tuesday, 7 June 2016

Apa itu cinta?

First thing first, don't you get bored of all these love-theme stuffs?

Pernah suka sama barang berlebihan? Saya pernah. Saya pecinta barang. Maksudnya, jika saya suka sama sesuatu barang, saya akan menjaganya dengan nyawa. 

Kisah cinta saya yang berlebihan ini terjadi pada telepon seluler yang saat ini saya gunakan, si Nero (Xperia Z), begitu saya memanggilnya. Nero karena dalam bahasa Italia berarti hitam. Terdengar seperti Kaisar Nero yang macho itu ya?

Saya begitu menyayangi si Nero. Saya tidak mau menggunakan pelindung apapun untuknya karena dia suka demam alias panas tinggi kalau sudah terlalu lelah. Saya juga sering memandikan dia di kala sudah kotor. Kemudian, dia akan bersih dan lebih nyaman untuk digunakan. 

Apa yang terjadi jika kamu menyukai sesuatu berlebihan? Yang terjadi pada saya adalah kesialan alias terjadi sesuatu pada barang tersebut yang membuatnya luka atau jelek. 

Sembilan bulan sejak saya membeli si Nero, saya mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Di pinggir Venice replika, Macau, saya mengeluarkan si Nero dan tetiba licin dan hampir jatuh ke sungai buatan. Untungnya, saya masih bisa menangkap si Nero sementara jantung berdegup kencang. Saya berpikir bagaimana mengambilnya jika jatuh ke bawah sana?

Namun demikian, memang sesuatu tidak bisa berkelit dari takdirnya. Lepas dari takdir jatuh di air, tetiba jatuhlah si Nero ke lantai yang terbuat dari batu alam. Dia lecet di beberapa tempat :( Rasanya rencana jalan-jalan sesudah itu tidak berarti lagi. Separuh jiwa saya pergi. Halah!

Tetapi, mengingat cicilan yang belum lunas, ya sudah. Oh life goes on. And it's only gonna make me strong~kenal lagu ini?. Sebenernya, dia hanya mengalami lecet luar, tidak mengalami disfungsi apapun. I still love him regardless of his appearance *ciyeee

Kejadian cinta berlebihan kedua, adalah kecintaan saya terhadap foto di Capri Island. Sebagai informasi, Pulau Capri ini pulau hits di Italia, dimana artis-artis Hollywood menikah atau memiliki rumah persinggahan. 

Capri Island *from Google
Saya mengambil banyak foto di sana bersama teman. Sesampainya di rumah, saya memindahkan foto dari kamera ke laptop dan memisahkan foto saya dari foto teman. Entahlah apa yang terjadi, akhirnya foto saya yang raib semua :'( Terbayang kan bagaimana sedihnya kehilangan foto. Sudahlah belum mampu beli suvenir yang ekstra mahal, foto juga hilang entah kemana...

Ya sudah mau bagaimana lagi? Saya menerima kenyataan bahwa memang sebaiknya tidak terlalu mencintai sesuatu/seseorang berlebihan. The art of losing. Saya belajar untuk melepaskan keterikatan dengan barang ~ idih macem Dalai Lama...

Tuesday, 31 May 2016

Mencintai Sebelum atau Sesudah Menikah?

Tarik nafas panjang...
Garuk-garuk pipi *ini beneran garuk-garuk loh sebelum menulis

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan bahwa ini bukan tema saya bangeeet! Satu, saya kurang suka tema cinta. Dua, saya juga kurang suka drama yang terjadi di dalam percintaan. Tiga, saya belum mengalami cinta yang sebegitu besarnya. Udah cukup ya, berarti saya tidak perlu menunaikan tugas arisan blog. hehehe!

Eits! Tapi si pengusul tema orangnya baik banget. Mana saya tega menyakiti hatinya yang sungguh lembut bak chawanmushi. 

Jika saya ditanya: memilih untuk menikahi orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi, saya akan memilih menikahi orang yang mencintai saya dan saya juga mencintai dia. Mengapa? Karena saya pikir, cinta adalah pondasi dari menikah. Setidaknya, mencintai adalah titik awal dari dua orang untuk menikah. 

Saya belajar dari pengalaman orang-orang di sekitar saya. Percaya atau tidak, banyak diantara kita yang menikah hanya karena sama-sama sudah cukup usia, keuangan, dan ingin menikah. Kemudian mengabaikan cinta. Efeknya? Saya menemukan satu keluarga yang bercerai karena si pria tidak cinta. Kasus lainnya, hampir bercerai, pisah ranjang, dan dekat dengan perempuan lain (walaupun belakangan diketahui mereka rujuk karena anak). Kasus lainnya, si pria masih senang main dan dikagumi perempuan-perempuan. Eh, kenapa kasusnya selalu si pria ya? Entahlah. 

Belajar dari beberapa kasus tersebut, mereka punya kesamaan. Kasus satu dan dua disebabkan karena si pria tidak cinta-cinta sangat dengan si wanita. Sewaktu perkenalan, si wanita terlalu baik hingga si pria tidak tega untuk tidak menikahi. Kasus ketiga, katanya si wanita kurang cantik (kayanya ini cowok minta digetok sih)


Di kasus kedua, si pria sampai rela mengantar teman-teman sekantornya pulang ke rumah demi sampai di rumah larut malam dan tinggal tidur. Bahkan terkadang dia makan di luar, sehingga ia dapat segera tidur sesampainya di rumah. Semua tahu dan sadar kalau pernikahan seperti ini sudah tidak sehat.

Pertanyaannya: 
1. Maukah kamu menikah dengan pria yang tidak mencintai kamu dan menghabiskan sisa hidupmu dengan tidak mengetahui fakta bahwa ia tidak mencintaimu? 
2. Tegakah kamu membiarkan orang lain (pasangan) menjalani hidup yang sebegitu menyiksa?
3. Sabarkah kamu untuk terus belajar mencintai pria tersebut, sementara hatimu berkata lain?

Jadi, dengan berat saya katakan, saya akan menikahi pria saya cintai (walaupun sedikit) asal dia juga mencintai saya (lebih banyak~egois hehe). Saya tidak bisa menikahi pria yang sangat mencintai saya tetapi saya tidak suka. Kalau kasusnya seperti ini, saya sudah menikah bertahun-tahun yang lalu hehe!

Satu lagi, saya belajar dari pengalaman di masa lampau. Saya pernah dekat dengan pria yang tidak saya suka tetapi dia suka saya. Rasanya menyiksaaa... Saya tidak pernah bahagia ketika akan bertemu pria itu, apalagi merasakan efek kupu-kupu di perut. 

Kesimpulannya:
1. Hidup terlalu singkat untuk tidak bahagia
2. Saya tidak mau mempertahankan pernikahan yang menyiksa hanya karena anak (papa saya menanamkan hal lain di diri saya)
3. Hati tidak pernah bisa dibohongi



Bagaimana denganmu?

Thursday, 26 May 2016

Mimpi Setelah Dewasa

Pernah main layang-layang atau layangan? 
Yang rambutnya agak kemerahan seperti rambut jagung pasti sah lulusan anak layangan sewaktu kecil. Merasakan bagaimana sulitnya menerbangkan layang-layang dengan melihat arah angin dan tarik-ulur benang. Oh, benangnya pun khusus, terutama untuk mereka yang suka beradu layangan. 

Tentang layangan, sebenarnya saya tidak memiliki kemampuan apapun untuk main layang-layang. Sungguh, saya hampir tidak pernah bersinggungan dengan layangan, kecuali punya abang yang hobi main layangan. Begitu sukanya hingga ia minta dibelikan layang-layang besar berwarna-warni dengan buntut panjang. Apa kontribusi saya di situ? Tidak ada. Memegang untuk ancang-ancang sebelum diterbangkan pun hanya satu kali, sepertinya. Sekalinya saya memegang benang setelah layangan terbang pun, saya memutuskan benangnya hahaha... Entah apa yang saya lakukan hingga benang layangan bisa putus!

Dulu, abang saya punya layangan jenis ini tetapi berwarna merah
Walaupun demikian, saya punya mimpi tentang layang-layang ini. Saya ingin menonton festival layang-layang (nasional maupun internasional) sekali seumur hidup. Layang-layang dengan berbagai ukuran, bentuk, dan warna pasti sangat menarik untuk ditonton. Belum lagi melihat bagaimana si pemain layang-layang berupaya sekuat tenaga untuk menerbangkan layang-layang. 


Berbekal kata kunci "International Kite Festival," ternyata saya menemukan bahwa setiap negara bahkan kota punya acara yang mereka klaim sebagai "Internasional." Beberapa diantaranya adalah (ya pasti) Dubai, Capetown, Bristol, Borneo, dll. 

Foto di bawah ini diambil dari Bristol Kite Festival.
Cute tiger, taken from this site

Let's just say a fairy, taken from this site
Keingintahuan saya berlanjut ke berapa berat layang-layang ini. Usut punya usut, saya menemukan bahwa ada layang-layang di Jepang yang berukuran raksasa namanya Giant Sagami Kite. Berat layang-layang ini mencapai 880 kg dengan ukuran 14,4 m x 14,4 m dan bahkan punya minimum kecepatan angin untuk menerbangkannya, yaitu sekitar  10-15m/s. Menurut situs ini, perlu 90 orang untuk menerbangkan si Sagami. (OOT sedikit, ramen Sagami di AEON enak lho :D)


Jadi, apakah kamu punya mimpi yang sama dengan saya? Yuk, berangkat bareng ke festival layang-layang :)

Tuesday, 17 May 2016

What's your passion?

Kata pepatah, carilah sesuatu yang kamu sukai, sehingga kamu tidak perlu "bekerja" setiap harinya.

Sejujurnya, saya kurang setuju dengan pepatah di atas, karena sesungguhnya saya bercita-cita untuk bekerja di bidang yang berbeda dari hal yang saya suka. Mengapa demikian? Jujur saja, hal yang menyenangkan pun, jika ada tuntutan di dalamnya, tidak lagi menyenangkan untuk saya. 

Misalnya, saya suka traveling. Tetapi, ketika saya dituntut untuk terus traveling karena memang pekerjaan saya, ditambah lagi dengan fakta bahwa traveling adalah sumber pendapatan saya untuk hidup, saya pilih tidak. Yang benar saja, citra hiburan traveling yang ada di memori saya bisa hilang. 

Jadi, saya ingin jadi apa? Simple saja. Saya ingin bekerja 9-5 yang pekerjaannya hanya bisa dilakukan di kantor. Jadi, ketika pulang ke rumah, saya bisa benar-benar beristirahat. Sesederhana itu. Jadi, saya sudah mendapatkan apa yang saya inginkan? Yah, mari bersyukur. 

Namun demikian, kalau boleh memilih bidang yang saya sukai, saya ingin menjadi seorang Lie Detector atau pembaca ekspresi mikro seperti Cal Lightman di film "Lie To Me" (catat: bukan film Korea ya, tapi yang TV series). 

Lie To Me - Tim Roth

Mengapa? Mungkin dilatarbelakangi oleh sifat dasar saya yang suka penasaran atau anggaplah kepo. Bisa membaca ekspresi mikro seseorang tentulah berfaedah untuk berjaga-jaga, misalnya. Berbekal kemampuan ini, kita bisa mengetahui gerak-gerik orang yang ingin berbuat jahat.

Namun, jika memiliki kemampuan ini, bersiaplah mengetahui fakta yang terkadang menyakitkan dan tidak sesuai harapan. Tetapi sebenarnya, setiap orang punya alasan untuk berbohong, kan? Coba posisikan diri di posisi orang tersebut, mungkin kita bisa memahaminya.

Jika saya memiliki kemampuan ini, saya pikir saya akan jadi orang yang skeptis, tidak bisa percaya pada setiap orang, kecuali orang yang tidak bisa "dibaca." Nah, ini adalah bagian buruknya. Karena kita tidak mungkin tidak percaya pada seluruh orang di dunia ini. Hidup jadi tidak menyenangkan. Pada akhirnya, kita tetap harus menaruh kepercayaan pada seseorang. 

Intinya, tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah berbohong dan tidak ada orang yang tidak pernah berkata jujur. There's no such thing as pure white or black. Semua situasional. Tinggal kita memutuskan apakah alasan di balik kebohongannya bisa diterima atau tidak.

Kalau kata Cal Lightman, bukan masalah seseorang berkata jujur atau bohong, tetapi alasan dibalik itu.



Yuk, lanjut memeriahkan Sidang Tahunan IDB *masuk ruang seminar



*pic taken from Google


Thursday, 12 May 2016

Choipan Oh Choipan...

Sudah kenal dengan Choipan? Pernah coba? Atau belum pernah dengar?
Ini penampakannya
Choipan merupakan makanan khas Pontianak, biasanya dibuat oleh para keturunan Tiongkok. Kulitnya lembut dan transparan berisi bengkuang dan ebi atau kucai. Biasanya ada sambal sebagai pendamping. Rasanya gurih dan sedikit pedas (jika menggunakan sambal). Kalau mau mencoba, makanan ini bisa ditemukan di Mangga Dua.

Begitu sukanya saya dengan makanan ini, saya bingung harus mencari kemana. Karena, jujur saja, Mangga Dua cukup jauh dari rumah saya. Teman saya yang terus-menerus menjanjikan Choipan juga tak kunjung menepati janji. Malah sekarang sudah bahagia bersama sang suami diboyong ke Solo yang semakin sulit untuk mencari Choipan.

Jadi, mengapa tidak membuatnya saja? Oke, sibuk berselancar sana-sini, saya menemukan resep Choipan yang dirasa cocok. Saya niat membuatnya di akhir pekan sembari mengisi akhir pekan dengan kegiatan yang berfaedah bagi kehidupan yang fana ini.

Diawali dengan mengupas bengkuang saja, saya sudah mengalami kecelakaan. Jari teriris pisau cukup dalam. Cukup membuat saya patah semangat untuk melanjutkan karena membuat Choipan wajib hukumnya dilakukan satu per satu seperti membuat pastel! Huhu....

Tapi, masa sih, saya menyerah? Oke, saya lanjutkan. Selesai membuat isi, saya membuat adonan kulit dan mengisi Choipan siji-persiji. Sengaja saya buat agak banyak karena katanya teman saya mau mencoba Choipan buatan saya. Iya, teman yang sudah berjanji akan membelikan saya Choipan.

Taraaaaa.... Choipans are ready to serve. Penampilan menyedihkan tapi rasanya lumayan. Bisa dimakan, maksudnya. Hehe!

Isi Choi Pan

Choi Pan in the making
Choi Pan, sebut saja demikian walaupun bentuknya jauh dari seharusnya
versi zoom

Lalu apa gagalnya?
Teman saya yang janji akan datang kembali tidak hadir (untuk kesekian kalinya dia ingkar janji). Kemudian? Choipan banyak tersisa. Apa yang terjadi? Choipan menjadi keras, khususnya bagian tepi. Sama sekali tidak enak dimakan! Walaupun kurang enak, mama saya tetap makan *terharu

Tuesday, 3 May 2016

That Nurturing Nice Man

Pertama pergi ke luar negeri kemana? Singapura? Thailand?

Sebelumnya, saya tidak bermaksud sombong apalagi sombong berselimut rendah hati alias humble-brag. Ini adalah tantangan blog berikutnya, yaitu Favourite First Moment!

Yuk, lanjut. Pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri adalah negeri di belahan bumi bagian barat yang berjarak 6,728.37 miles dari Jakarta. Yup, it's Rome! 

When in Rome....

Tunggu, mari cerita dari awal. Pada intinya, saya mendapatkan beasiswa untuk belajar bahasa Italia dari pemerintah Italia selama 3 bulan (Juli - September 2008). Grazie mille, Italia! Siete molto gentili!

Kemudian terjadilah kesalahan pengetikan nama saya yang mengakibatkan saya harus menunggu dokumen revisi dan berangkat sendiri alias tidak bersama teman yang satu batch dengan saya. Terbayang bagaimana saya bocah berusia 21 (turning 22 yo) geret-geret koper 28"  berikut tas laptop dan satu tas kabin. Punggung terasa mau patah! 

Oke, hari H tiba dimana saya berangkat dari CGK pukul 00.00 dini hari setelah tangisan sedih atau bahagia (?) bersama orang tua yang ikhlas melepas kepergian saya. Saya masih ingat, waktu itu saya naik Qatar Airways dengan rute Jakarta - Doha - Roma. 


Sampailah saya di kursi sebelah jendela dengan kursi sebelah saya kosong hingga pesawat transit di Singapura. Di bandara Changi, datanglah seorang pria paruh baya duduk di samping saya. (Bukan, saya sama sekali tidak punya harapan sebelah saya pria ganteng. Sewaktu saya berumur 22 tahun, otak saya belum punya satu locus pun yang memikirkan pria.)

Saya lupa bertanya siapa nama bapak itu, yang saya ingat beliau bekerja di perusahaan minyak dan sudah memiliki anak. Dia bertanya tentang tujuan saya dan mengapa saya sampai bisa ke Italia. Kemudian, dia juga mencatat tentang beasiswa yang saya terima agar anaknya kelak juga bisa mendaftar. 

Bukan hanya itu yang saya ingat. Ini bagian yang tidak bisa saya lupa seumur hidup. It sounds too dramatic but it's true. Perjalanan saya ke negara berbentuk sepatu itu adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri dengan pesawat besar dan fasilitas lengkap. Pada waktu itu, saya tidak tahu sama sekali bagaimana mengoperasikan TV, remote TV, dll. Yang saya lakukan hanya diam dan memandang jendela sambil refleksi. Cerita refleksinya di bawah aja yah. 

Melihat saya yang tidak berbuat apa-apa terhadap TV, si bapak baik hati rupanya tahu saya gaptek. Yang ia lakukan berikutnya adalah mengajarkan saya bagaimana mengoperasikan TV yang berbuah saya bisa nonton Kung Fu Panda sewaktu pulang dari Italia hahaha. 

Mirip dikit sama ini tapi remote-nya di bawah senderan tangan
Sewaktu saya sedang menonton In-Flight Entertainment, saya tertidur pulas. Sewaktu saya ngelilir (halah!) melek sebentar, saya melihat bahwa tubuh saya sudah diselimuti :) Saya tidak tahu siapa yang meletakkan selimut di tubuh saya, entah mbak pramugari atau bapak baik hati di sebelah saya. Siapapun itu, terima kasih! Kalau boleh menebak sih, saya rasa bapak di sebelah saya. 

Dan sampailah saya di FCO (Ceritanya disingkat saja ya. Padahal ada bagian kesulitan traveling sendiri saat transit, yaitu tetap terbangun untuk nunggu pesawat berikutnya). Persis seperti yang saya masih ingat :)
(Fiumicino / Leonardo da Vinci airport)
Kalau mau diceritain tentang every first moment in Rome, pasti panjang bener. Jadi, saya putuskan cukup sampai di sini saja ya. 

Cerita sedikit tentang refleksi, sewaktu saya sedang menunggu pesawat, saya melihat rombongan orang Indonesia yang ingin berwisata ke Eropa. Mereka tertawa bersama... Pada saat di pesawat pun saya berpikir tentang betapa berharganya orang-orang di sekeliling saya; keluarga, saudara, dan teman. pada saat beli suvenir, yang saya ingat adalah keluarga dan teman-teman (sampai lupa menghadiahi diri sendiri). Sewaktu di Italia pun, saya selalu berpikir betapa durjananya saya sama keluarga ketika saya bersama mereka. Ternyata traveling sendiri membuat diri menjadi sentimentil. Belum lagi masalah memenuhi kewajiban panggilan alam ke toilet. Terus yang jagain barang siapa? :'( 



Sometimes, we take for granted every moment we face every day. That's why, cherish every moment you have every day, every minute of it.


“Cherish every moment with those you love 
at every stage of your journey” 
Jack Layton 


*Pics are taken from Google

Thursday, 28 April 2016

If I were a man,...

Pernah berpikir menjadi seorang cowok? Siapa cewek idaman kamu jika kamu menjadi cowok?

Begini, sebenarnya ini pertanyaan sulit karena:
1. ya ampun, saya jadi cewek aja sulit banget menentukan kriteria cowok idaman saya. Semacam surreal haha!
2. cewek idaman di sini dibatasi hanya di lingkungan satu Biro. Bagaimana kalau saya memilih diri sendiri? XD

Sudah cukup ya narsisnya, setelah saya menanyakan ke teman "eh, kok lo nggak pilih gw sih?" ke dua rekan arisan blog dan dijawab dengan beraroma sinisme, oke saya putuskan. Saya akan menulis tentang orang lain. Berikut kriteria cewek idaman saya (jika menjadi cowok)

Tentang kriteria, serius deh, satu yang tidak bisa ditawar adalah berpikiran terbuka, seterbuka-terbukanya. Tapi hanya pikiran ya, dalam beberapa hal, karena tetap ada value yang dipegang dan jadi "pagar" untuk membatasi diri dari hal-hal negatif dan merugikan. Oiya, termasuk di dalamnya berwawasan luas, bisa diajak bergosip dan berpikir keras membahas permasalahan NKRI.

Kriteria kedua adalah berpikir logis. Iya, saya suka berdiskusi banyak hal dan menanyakan hal-hal aneh. Entah ya, tapi saya kurang suka sesuatu hal yang sentimentil dan menye-menye. Semua dilihat dari logika, nggak hanya terbawa perasaan. (Kadang saya mikir, kayanya saya harusnya cowok deh)

Kriteria ketiga adalah simpel alias nggak ribet sama hidup. Jadi, ada kan cewek-cewek yang hobi banget belanja, misalnya. Mereka bisa menghabiskan waktu sampe satu hari untuk belanja. Ya ampun! Belum lagi, ada cewek yang hobi banget ngobrol tapi hmmmm, nggak penting. Misalnya: "Aduh, aku pake baju apa ya? Yang ini begini, yang itu begitu. Kalau pake baju ini, nggak cocok. Yang ini aja deh. And she keeps talking like I don't even care or listen to" (Yang ini cerita asli - yang bisa tebak, ada hadiah menarik: 1 bungkus sponge rasa seadanya untuk yang tercepat menjawab)

Poin terakhir adalah humoris, bisa menertawakan kebodohan atau hidup. Yang ini sih sebenernya wajib ada di dalam diri setiap orang. Yakali, serius banget menghadapi hidup, yang ada stroke.


And my favourite woman will be Irma Kesuma aka Mbak Ime. *harus banget ini di-share ke orangnya

She's the one at the front :)




Thursday, 21 April 2016

That Dummy on My Desk

Hell-o, readers!

Arisan blog telah kembali! Yay~ Berarti blog saya yang kurang terurus ini akan kembali sedikit terurus yah. Selain itu, menyambut kuartal kedua 2016, boleh lah sedikit punya resolusi yang lebih baik, misalnya punya workspace alias tempat kerja yang lebih baik daripada sebelumnya.

Sebenarnya, kebetulan juga, saya dan teman satu bagian bermigrasi ke tempat baru. Anggaplah demikian karena sebetulnya kami digusur oleh orang yang "berkuasa" *huks.... Long story short, here were are, we're happy and... what? peaceful? 

Anyway, ukuran meja kerja saya yang sekarang memang lebih besar. Jadi, saya bisa menaruh apa saja di atas meja dan tetap luas hahaha.... Singkat cerita, saya mau cerita 2 hal yang pantas diceritakan. Satu, tahukah kamu kalau saya adalah seorang hoarder alias penimbun? Dilahirkan dengan golongan darah A, saya suka menyimpan sesuatu seolah besok mau kiamat. Yang selalu ada di atas meja saya adalah susu ultra! That's true! Selain untuk snack di kala lapar pada jam tanggung, susu kotak juga berfaedah untuk diversifikasi pangan di kala sarapan pagi. Misalnya, kalau bosan makan nasi, tinggal ambil sereal terus tuang susu. Yup! Saya juga suka simpen sereal hehe...

Barang kedua yang agak anomali di atas meja saya adalah al-quran (berasa Syariah). Sebagai informasi, saya bukan orang yang Syariah hehe... Al-quran itu hadiah ulang tahun dari teman saya yang pengen saya bisa baca al-quran. Iya bener, sekalian biar dia dapet pahala. Bisak banget ye orang! hehehee....