Tuesday, 31 May 2016

Mencintai Sebelum atau Sesudah Menikah?

Tarik nafas panjang...
Garuk-garuk pipi *ini beneran garuk-garuk loh sebelum menulis

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan bahwa ini bukan tema saya bangeeet! Satu, saya kurang suka tema cinta. Dua, saya juga kurang suka drama yang terjadi di dalam percintaan. Tiga, saya belum mengalami cinta yang sebegitu besarnya. Udah cukup ya, berarti saya tidak perlu menunaikan tugas arisan blog. hehehe!

Eits! Tapi si pengusul tema orangnya baik banget. Mana saya tega menyakiti hatinya yang sungguh lembut bak chawanmushi. 

Jika saya ditanya: memilih untuk menikahi orang yang dicintai atau mencintai orang yang dinikahi, saya akan memilih menikahi orang yang mencintai saya dan saya juga mencintai dia. Mengapa? Karena saya pikir, cinta adalah pondasi dari menikah. Setidaknya, mencintai adalah titik awal dari dua orang untuk menikah. 

Saya belajar dari pengalaman orang-orang di sekitar saya. Percaya atau tidak, banyak diantara kita yang menikah hanya karena sama-sama sudah cukup usia, keuangan, dan ingin menikah. Kemudian mengabaikan cinta. Efeknya? Saya menemukan satu keluarga yang bercerai karena si pria tidak cinta. Kasus lainnya, hampir bercerai, pisah ranjang, dan dekat dengan perempuan lain (walaupun belakangan diketahui mereka rujuk karena anak). Kasus lainnya, si pria masih senang main dan dikagumi perempuan-perempuan. Eh, kenapa kasusnya selalu si pria ya? Entahlah. 

Belajar dari beberapa kasus tersebut, mereka punya kesamaan. Kasus satu dan dua disebabkan karena si pria tidak cinta-cinta sangat dengan si wanita. Sewaktu perkenalan, si wanita terlalu baik hingga si pria tidak tega untuk tidak menikahi. Kasus ketiga, katanya si wanita kurang cantik (kayanya ini cowok minta digetok sih)


Di kasus kedua, si pria sampai rela mengantar teman-teman sekantornya pulang ke rumah demi sampai di rumah larut malam dan tinggal tidur. Bahkan terkadang dia makan di luar, sehingga ia dapat segera tidur sesampainya di rumah. Semua tahu dan sadar kalau pernikahan seperti ini sudah tidak sehat.

Pertanyaannya: 
1. Maukah kamu menikah dengan pria yang tidak mencintai kamu dan menghabiskan sisa hidupmu dengan tidak mengetahui fakta bahwa ia tidak mencintaimu? 
2. Tegakah kamu membiarkan orang lain (pasangan) menjalani hidup yang sebegitu menyiksa?
3. Sabarkah kamu untuk terus belajar mencintai pria tersebut, sementara hatimu berkata lain?

Jadi, dengan berat saya katakan, saya akan menikahi pria saya cintai (walaupun sedikit) asal dia juga mencintai saya (lebih banyak~egois hehe). Saya tidak bisa menikahi pria yang sangat mencintai saya tetapi saya tidak suka. Kalau kasusnya seperti ini, saya sudah menikah bertahun-tahun yang lalu hehe!

Satu lagi, saya belajar dari pengalaman di masa lampau. Saya pernah dekat dengan pria yang tidak saya suka tetapi dia suka saya. Rasanya menyiksaaa... Saya tidak pernah bahagia ketika akan bertemu pria itu, apalagi merasakan efek kupu-kupu di perut. 

Kesimpulannya:
1. Hidup terlalu singkat untuk tidak bahagia
2. Saya tidak mau mempertahankan pernikahan yang menyiksa hanya karena anak (papa saya menanamkan hal lain di diri saya)
3. Hati tidak pernah bisa dibohongi



Bagaimana denganmu?

4 comments:

  1. Yes, as cringe-worthy as it may sound, but love is an important aspect in a marriage

    ReplyDelete
  2. eaaa.....serius amat lu jes? tumben wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. serius dong, kan tentang kewong jajaja...

      Delete
  3. cringe-worthy itu apa sih artinya suhu?

    ReplyDelete