Thursday, 28 July 2016

Seandainya saya bisa bertemu

Kapan pertama kenal produk Apple?
Saya kenal pada tahun 2008. Ketika itu, saya akan segera memulai kursus bahasa Italia dan saya akan membutuhkan laptop untuk mendukung komunikasi di negeri orang. Setelah survey ke sana - kemari dan mempertimbangkan Toshiba dan Sony. Saya dan abang saya memutuskan untuk membeli Macbook, tetapi yang membeli dia, sih. Iya, begitulah kami kakak-adik absurd

Saat itu, Macbook hanya ada dua warna, yaitu putih dan hitam dan kami memilih warna putih. 
Ini penampakan Macbook kami dulu *pic taken from internet
Setelah membeli Macbook, saya juga mengikuti kursus untuk mengoperasikan Macbook. Dulu masih ada training-nya, mungkin sekarang sudah ditiadakan karena generasi milenial sudah lebih canggih dan cepat belajar hal baru. 

Saya terlanjur cinta dengan Macbook ini karena semua ada di dalam Macbook, hanya tinggal kita mengetahuinya atau tidak. Macbook tidak punya manual book. Jadi, kreatiflah melakukan eksplorasi. Selain itu, garansi Macbook juga internasional dan mudah saja bagi saya untuk mencari bantuan ketika internetnya tidak mau beroperasi waktu itu. Si penjaga toko dengan baiknya membantu saya tanpa biaya. Hehe!

Barang  Apple kedua yang saya beli adalah iPod. Saya ingin sekali membeli iPod karena touchscreen-nya. Saya berpikir sepertinya keren jika jari bisa meluncur di atas layar. Bukan hanya itu, iPod juga dilengkapi kamera, internet, dan bisa untuk instal game! Sempurna kan? 
Selain iPod touch, saya dan abang saya juga punya ipod classic dan iPad. Bukan bermaksud sombong, saya dan abang saya memang dulu apple fans. Sebegitu ngefansnya saya sama produk Apple, sehingga saya mengagumi pria yang telah melahirkan produk Apple waktu itu, yaitu Steve Jobs. Saya sampai membeli buku biografinya. 
 
Saya punya buku ini *pic taken from internet
Kalau ditanya sudah selesai belum? Jawabannya belum, tetapi saya banyak belajar dari Steve Jobs. Salah satu kutipan Steve Jobs yang saya selalu ingat "Simplicity is the ultimate sophistication." Jadi, masih mau ribet?


Kecintaan saya berlanjut setelah tahu Steve Jobs sempat membangun Pixar. Saya semakin cinta buta dan hampir selalu menyempatkan diri nonton film kartun yang dibuat Pixar. Untungnya, film produksi Pixar memang bagus. Jadi, cinta saya nggak buta-buta banget. Pada saat yang sama, ini juga membuktikan kalau segala hal yang dikerjakan Steve Jobs memang berhasil hehe.

Kalau saja saya punya satu kesempatan dalam hidup ingin bertemu siapa, tanpa berpikir panjang, saya mau bertemu Steve Jobs!