Thursday, 30 June 2016

Tough Choice

Pilih mana? Korea, India, Jepang atau Amerika Latin?

Susah ya, karena semuanya bukan pilihan hidup saya hehehe. Pertama, Korea. Saya bukan fans Korea. Dulu pernah suka banget sama Princess Hours kemudian cinta itu menguap begitu saja. Dalam hal makanan, saya sudah beberapa kali mencoba dan tetap optimis ada makanan Korea yang mungkin saya suka, ternyata fakta berkata lain. Rasa Korea tidak ada dalam range lidah saya. Ini soal selera saja.

Kemudian India. Saya juga bukan fans film Bollywood yang berdurasi 3 jam, apalagi dramanya. Mungkin banyak orang tertarik pergi ke India karena eksotis. Tetapi maaf saja, saya belum memasukkan India ke daftar negara yang ingin saya kunjungi karena... well, you know... Konon katanya, begitu turun di bandara pun, turis sudah disambut dengan holy cow (eh, bukan steak ya). Belum lagi, setelah membaca buku Titik Nol dan mengetahui pria India berani secara terang-terangan meminta hubungan intim dengan turis wanita, saya semakin meletakkan India di daftar terbawah negara yang saya ingin kunjungi. Taj Mahal? Belum menjadi alasan kuat untuk saya ke sana. 

Selanjutnya, Jepang. Saya termasuk orang yang antimainstream, kurang berminat sama Jepang juga. Alasannya karena belum ada sesuatu di Jepang yang menarik saya untuk ke sana. Tidak bahasa, tidak kecantikan alamnya, tidak juga figur imajinasi yang sudah diciptakan. Namun demikian, mungkin ada satu hal yang bisa menarik saya ke Jepang, yaitu makanan! Sushi, takoyaki, ramen bisa memanggil saya ke sana. Tetapi sesungguhnya saya agak sangsi, selain ramen kebanyakan mengandung piggy, rasa sushi yang otentik belum tentu pas di lidah saya. 

Jadi, mungkin pilihan saya jatuh pada Amerika Latin atau lebih tepatnya Brasil. Bukan karena saya suka grup sepak bolanya, tetapi karena acara di Nat Geo People yang berjudul This Is Brasil. Di salah satu episodenya, si mbak cantik yang jadi presenter diajak ke suatu tempat dimana orang lokal Brasil berlatih tarian khas Brasil. Tahu kan tarian berpasangan  dimana si perempuan akan memakai sepatu berhak tinggi dan si laki-laki berotot kuat. Tarian melibatkan "melempar" si perempuan dan perempuan akan mendarat tepat di pelukan pria lain. Setelah itu si perempuan diputar hingga kaki ber-heels di atas dan wajah di bawah. Saya yakin, sewaktu latihan ada memar dimana-mana. 

Bukan hanya tarian, Brasil juga menjadi menarik buat saya karena Brasil punya rasa makanan yang kuat. Terbukti sewaktu saya mencari dan menemukan situs ini. 
Who can resist?

Layers of cookies filled with chocolate or fruit, lemon, coconut, etc
 And, of course
Singkong goreng emang paling TOP!!

Thursday, 23 June 2016

Tentang Hidup Sederhana

Ponsel saya sudah lambat dan batrenya boros, saya ingin ganti ponsel yang lebih baik
Saya ingin punya jam tangan (lagi) untuk ganti-ganti
Tas saya sudah tidak layak dipakai, saya ingin punya tas kulit yang awet

Barang di atas adalah barang yang sebenarnya sedang saya inginkan di dalam lubuk hati saya. Iya, ingin. Saya ingin tas kulit, ponsel baru, dan jam tangan. Tetapi jika dipikirkan lebih lanjut, saya jadi mengurungkan niat saya. Selain karena ada hal lain yang lebih penting, saya pikir keinginan di atas hanya sesaat.

Beberapa minggu yang lalu, saya sedang melakukan pencarian tas untuk ke kantor (ini kebutuhan karena tas saya sudah tidak layak pakai). Saat itu, kebetulan film AADC sedang tayang dan tas mbak Dian menjadi sorotan. Seorang teman memberi tahu saya toko tas tersebut. Jujur saja, saya ingin membeli tas tote dari kulit seharga Rp1,5 juta. Terlepas dari adanya kebutuhan yang lebih penting, saya pikir, saya bisa melakukan pergeseran anggaran atau penghematan demi membeli tas tersebut. Cara lainnya adalah membeli dengan kartu kredit dan mencicilnya selama 6 bulan, menjadi sekitar Rp250 ribuan per bulan. Masih masuk akal, kan? Banget! Sekali jalan ke mall saja bisa menghabiskan uang sekitar itu, kok. 

Selain tas Mbak Disas, saya juga mencari tas merk luar yang memiliki toko di Indonesia. Dapatlah satu tas yang saya suka dengan bahan suede, harganya sekitar Rp1,5 juta (lagi-lagi). Kemudian, saya berpikir, saya bisa mendapatkan harga yang sedikit lebih murah dengan menitip teman di Perancis. Setelah dikurs, harga tas yang sama menjadi Rp1,3 jutaan. Seharusnya bisa saya beli.

Namun demikian, saya berpikir ulang. Mengapa saya harus membeli tas tersebut? Karena tas kulit? Mengapa harus kulit? Bukankah yang terpenting adalah tidak tembus air? Setelah membelinya bagaimana? Saya pengguna angkutan umum. 

Malam itu, udara Jakarta sangat panas dan pengap. Di dalam angkutan umum, saya duduk dekat lampu yang sangat panas, sehingga menambah aktivitas pembakaran kalori saya. Di dalam angkutan, saya terpekur (bahasa Amel), dalam keadaan berkeringat dan berdesakan dengan penumpang di kanan-kiri, bagaimana saya harus menjaga tas saya? Menjaga dalam arti, tidak terkena panas dan hujan langsung, apalagi keringat yang mengandung asam. Belum lagi terkena kotoran lainnya. Kecuali saya naik-turun mobil pribadi, akan lebih susah merawat tas tersebut.

Esok harinya, saya memutuskan. Saya tidak akan membeli tas kulit maupun tas suede seharga Rp1,5 juta tersebut, tetapi membeli tas di toko satunya, yang juga menjadi kandidat yang ingin saya beli. Voila! Saya menggunakan tas saya hari ini. Tas seharga Rp400 ribuan. Cukup buat saya. 

tas baru itu
Rapi ya? :)

Akhir-akhir ini memang saya sedang belajar tentang hidup sederhana. Hidup bukan tentang memuaskan keinginan tetapi cukup pada kebutuhan. Beruntungnya, saya punya ukuran sendiri sampai dimana saya merasa cukup. Ukuran ini yang membuat saya belajar untuk berpuas diri. Karena sekali saja saya menuruti keinginan, tuntutan akan meningkat terus dan lama-lama bisa mencekik diri. No, I don't want to suffer. I want to fill my life with happiness. In my own way.


"Even though one may have material possessions,
if one is mentally poor,
then one will always feel lacking and want more" - Dalai Lama

Thursday, 16 June 2016

Tentang lagu yang membawamu ke masa itu

Ini cerita tentang kami sekitar 4 sampai 5 tahun yang lalu. 
Ketika kami masih lebih muda. 
Ketika kami masih bisa menikmati uang yang didapat untuk membeli kebahagiaan. 
Ketika kami bisa pergi ke mall kelas A setiap minggu.
Ketika kami masih bisa berkumpul untuk bergossip (berghibah) hampir 2 minggu sekali.
Ketika cicilan belum masuk ke dalam daftar kewajiban hidup.
Ketika hidup belum terkotak-kotak

Waktu itu, kami termasuk dalam golongan orang yang sering hura-hura dan pulang malam bersama. Tidak ada anggota tetap, tetapi orang-orang yang bersedia memang pada akhirnya tertentu dan itu-itu saja. 

Ketika itu, semua orang masih belum menunjukkan sifat aslinya, kecuali satu orang. Pada awalnya, saya tidak begitu mengenalnya walaupun pernah satu almamater. Tidak pernah sekalipun familiar dengan mukanya. 

Sampai akhirnya, kami merencanakan agenda untuk karaoke bersama. Saya agak lupa, apakah itu karaoke traktiran seorang teman yang sedang ulang tahun atau acara lain. Tetapi, saya menjadi terus mengingat sosok itu dan mengidentikkan dirinya dengan lagu tersebut. 

Tetiba dia meminta sebuah lagu dan tiba gilirannya menyanyi semacam orang kerasukan:

Sejujurnya ku tak bisaaa
Hidup tanpa ada kamu aku gilaaa
Seandainya kamu bisaaa
Mengulang kembali lagi cinta kitaaa



*kemudian saya melirik si pemiliki suara
Jangan bayangkan wajah saya secantik ini sewaktu menoleh ke dia


Dia yang membuat saya tertegun, terperanjak, dan terkaget-kaget. Dia adalah Pradany Hayyu, 28, penggila es batu, fans Firman.

Tuesday, 7 June 2016

Apa itu cinta?

First thing first, don't you get bored of all these love-theme stuffs?

Pernah suka sama barang berlebihan? Saya pernah. Saya pecinta barang. Maksudnya, jika saya suka sama sesuatu barang, saya akan menjaganya dengan nyawa. 

Kisah cinta saya yang berlebihan ini terjadi pada telepon seluler yang saat ini saya gunakan, si Nero (Xperia Z), begitu saya memanggilnya. Nero karena dalam bahasa Italia berarti hitam. Terdengar seperti Kaisar Nero yang macho itu ya?

Saya begitu menyayangi si Nero. Saya tidak mau menggunakan pelindung apapun untuknya karena dia suka demam alias panas tinggi kalau sudah terlalu lelah. Saya juga sering memandikan dia di kala sudah kotor. Kemudian, dia akan bersih dan lebih nyaman untuk digunakan. 

Apa yang terjadi jika kamu menyukai sesuatu berlebihan? Yang terjadi pada saya adalah kesialan alias terjadi sesuatu pada barang tersebut yang membuatnya luka atau jelek. 

Sembilan bulan sejak saya membeli si Nero, saya mengajaknya jalan-jalan ke luar negeri. Di pinggir Venice replika, Macau, saya mengeluarkan si Nero dan tetiba licin dan hampir jatuh ke sungai buatan. Untungnya, saya masih bisa menangkap si Nero sementara jantung berdegup kencang. Saya berpikir bagaimana mengambilnya jika jatuh ke bawah sana?

Namun demikian, memang sesuatu tidak bisa berkelit dari takdirnya. Lepas dari takdir jatuh di air, tetiba jatuhlah si Nero ke lantai yang terbuat dari batu alam. Dia lecet di beberapa tempat :( Rasanya rencana jalan-jalan sesudah itu tidak berarti lagi. Separuh jiwa saya pergi. Halah!

Tetapi, mengingat cicilan yang belum lunas, ya sudah. Oh life goes on. And it's only gonna make me strong~kenal lagu ini?. Sebenernya, dia hanya mengalami lecet luar, tidak mengalami disfungsi apapun. I still love him regardless of his appearance *ciyeee

Kejadian cinta berlebihan kedua, adalah kecintaan saya terhadap foto di Capri Island. Sebagai informasi, Pulau Capri ini pulau hits di Italia, dimana artis-artis Hollywood menikah atau memiliki rumah persinggahan. 

Capri Island *from Google
Saya mengambil banyak foto di sana bersama teman. Sesampainya di rumah, saya memindahkan foto dari kamera ke laptop dan memisahkan foto saya dari foto teman. Entahlah apa yang terjadi, akhirnya foto saya yang raib semua :'( Terbayang kan bagaimana sedihnya kehilangan foto. Sudahlah belum mampu beli suvenir yang ekstra mahal, foto juga hilang entah kemana...

Ya sudah mau bagaimana lagi? Saya menerima kenyataan bahwa memang sebaiknya tidak terlalu mencintai sesuatu/seseorang berlebihan. The art of losing. Saya belajar untuk melepaskan keterikatan dengan barang ~ idih macem Dalai Lama...