Thursday, 23 June 2016

Tentang Hidup Sederhana

Ponsel saya sudah lambat dan batrenya boros, saya ingin ganti ponsel yang lebih baik
Saya ingin punya jam tangan (lagi) untuk ganti-ganti
Tas saya sudah tidak layak dipakai, saya ingin punya tas kulit yang awet

Barang di atas adalah barang yang sebenarnya sedang saya inginkan di dalam lubuk hati saya. Iya, ingin. Saya ingin tas kulit, ponsel baru, dan jam tangan. Tetapi jika dipikirkan lebih lanjut, saya jadi mengurungkan niat saya. Selain karena ada hal lain yang lebih penting, saya pikir keinginan di atas hanya sesaat.

Beberapa minggu yang lalu, saya sedang melakukan pencarian tas untuk ke kantor (ini kebutuhan karena tas saya sudah tidak layak pakai). Saat itu, kebetulan film AADC sedang tayang dan tas mbak Dian menjadi sorotan. Seorang teman memberi tahu saya toko tas tersebut. Jujur saja, saya ingin membeli tas tote dari kulit seharga Rp1,5 juta. Terlepas dari adanya kebutuhan yang lebih penting, saya pikir, saya bisa melakukan pergeseran anggaran atau penghematan demi membeli tas tersebut. Cara lainnya adalah membeli dengan kartu kredit dan mencicilnya selama 6 bulan, menjadi sekitar Rp250 ribuan per bulan. Masih masuk akal, kan? Banget! Sekali jalan ke mall saja bisa menghabiskan uang sekitar itu, kok. 

Selain tas Mbak Disas, saya juga mencari tas merk luar yang memiliki toko di Indonesia. Dapatlah satu tas yang saya suka dengan bahan suede, harganya sekitar Rp1,5 juta (lagi-lagi). Kemudian, saya berpikir, saya bisa mendapatkan harga yang sedikit lebih murah dengan menitip teman di Perancis. Setelah dikurs, harga tas yang sama menjadi Rp1,3 jutaan. Seharusnya bisa saya beli.

Namun demikian, saya berpikir ulang. Mengapa saya harus membeli tas tersebut? Karena tas kulit? Mengapa harus kulit? Bukankah yang terpenting adalah tidak tembus air? Setelah membelinya bagaimana? Saya pengguna angkutan umum. 

Malam itu, udara Jakarta sangat panas dan pengap. Di dalam angkutan umum, saya duduk dekat lampu yang sangat panas, sehingga menambah aktivitas pembakaran kalori saya. Di dalam angkutan, saya terpekur (bahasa Amel), dalam keadaan berkeringat dan berdesakan dengan penumpang di kanan-kiri, bagaimana saya harus menjaga tas saya? Menjaga dalam arti, tidak terkena panas dan hujan langsung, apalagi keringat yang mengandung asam. Belum lagi terkena kotoran lainnya. Kecuali saya naik-turun mobil pribadi, akan lebih susah merawat tas tersebut.

Esok harinya, saya memutuskan. Saya tidak akan membeli tas kulit maupun tas suede seharga Rp1,5 juta tersebut, tetapi membeli tas di toko satunya, yang juga menjadi kandidat yang ingin saya beli. Voila! Saya menggunakan tas saya hari ini. Tas seharga Rp400 ribuan. Cukup buat saya. 

tas baru itu
Rapi ya? :)

Akhir-akhir ini memang saya sedang belajar tentang hidup sederhana. Hidup bukan tentang memuaskan keinginan tetapi cukup pada kebutuhan. Beruntungnya, saya punya ukuran sendiri sampai dimana saya merasa cukup. Ukuran ini yang membuat saya belajar untuk berpuas diri. Karena sekali saja saya menuruti keinginan, tuntutan akan meningkat terus dan lama-lama bisa mencekik diri. No, I don't want to suffer. I want to fill my life with happiness. In my own way.


"Even though one may have material possessions,
if one is mentally poor,
then one will always feel lacking and want more" - Dalai Lama

3 comments:

  1. Tetep yaaa, ada quotes-nya Dalai Lama. Rapi beut jess isi tasnya. Tas golongan darah A *laluliattasAmel

    ReplyDelete
  2. buat gue 400 masih mahal *hidupsederhana*

    ReplyDelete