Tuesday, 3 May 2016

That Nurturing Nice Man

Pertama pergi ke luar negeri kemana? Singapura? Thailand?

Sebelumnya, saya tidak bermaksud sombong apalagi sombong berselimut rendah hati alias humble-brag. Ini adalah tantangan blog berikutnya, yaitu Favourite First Moment!

Yuk, lanjut. Pengalaman pertama saya pergi ke luar negeri adalah negeri di belahan bumi bagian barat yang berjarak 6,728.37 miles dari Jakarta. Yup, it's Rome! 

When in Rome....

Tunggu, mari cerita dari awal. Pada intinya, saya mendapatkan beasiswa untuk belajar bahasa Italia dari pemerintah Italia selama 3 bulan (Juli - September 2008). Grazie mille, Italia! Siete molto gentili!

Kemudian terjadilah kesalahan pengetikan nama saya yang mengakibatkan saya harus menunggu dokumen revisi dan berangkat sendiri alias tidak bersama teman yang satu batch dengan saya. Terbayang bagaimana saya bocah berusia 21 (turning 22 yo) geret-geret koper 28"  berikut tas laptop dan satu tas kabin. Punggung terasa mau patah! 

Oke, hari H tiba dimana saya berangkat dari CGK pukul 00.00 dini hari setelah tangisan sedih atau bahagia (?) bersama orang tua yang ikhlas melepas kepergian saya. Saya masih ingat, waktu itu saya naik Qatar Airways dengan rute Jakarta - Doha - Roma. 


Sampailah saya di kursi sebelah jendela dengan kursi sebelah saya kosong hingga pesawat transit di Singapura. Di bandara Changi, datanglah seorang pria paruh baya duduk di samping saya. (Bukan, saya sama sekali tidak punya harapan sebelah saya pria ganteng. Sewaktu saya berumur 22 tahun, otak saya belum punya satu locus pun yang memikirkan pria.)

Saya lupa bertanya siapa nama bapak itu, yang saya ingat beliau bekerja di perusahaan minyak dan sudah memiliki anak. Dia bertanya tentang tujuan saya dan mengapa saya sampai bisa ke Italia. Kemudian, dia juga mencatat tentang beasiswa yang saya terima agar anaknya kelak juga bisa mendaftar. 

Bukan hanya itu yang saya ingat. Ini bagian yang tidak bisa saya lupa seumur hidup. It sounds too dramatic but it's true. Perjalanan saya ke negara berbentuk sepatu itu adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri dengan pesawat besar dan fasilitas lengkap. Pada waktu itu, saya tidak tahu sama sekali bagaimana mengoperasikan TV, remote TV, dll. Yang saya lakukan hanya diam dan memandang jendela sambil refleksi. Cerita refleksinya di bawah aja yah. 

Melihat saya yang tidak berbuat apa-apa terhadap TV, si bapak baik hati rupanya tahu saya gaptek. Yang ia lakukan berikutnya adalah mengajarkan saya bagaimana mengoperasikan TV yang berbuah saya bisa nonton Kung Fu Panda sewaktu pulang dari Italia hahaha. 

Mirip dikit sama ini tapi remote-nya di bawah senderan tangan
Sewaktu saya sedang menonton In-Flight Entertainment, saya tertidur pulas. Sewaktu saya ngelilir (halah!) melek sebentar, saya melihat bahwa tubuh saya sudah diselimuti :) Saya tidak tahu siapa yang meletakkan selimut di tubuh saya, entah mbak pramugari atau bapak baik hati di sebelah saya. Siapapun itu, terima kasih! Kalau boleh menebak sih, saya rasa bapak di sebelah saya. 

Dan sampailah saya di FCO (Ceritanya disingkat saja ya. Padahal ada bagian kesulitan traveling sendiri saat transit, yaitu tetap terbangun untuk nunggu pesawat berikutnya). Persis seperti yang saya masih ingat :)
(Fiumicino / Leonardo da Vinci airport)
Kalau mau diceritain tentang every first moment in Rome, pasti panjang bener. Jadi, saya putuskan cukup sampai di sini saja ya. 

Cerita sedikit tentang refleksi, sewaktu saya sedang menunggu pesawat, saya melihat rombongan orang Indonesia yang ingin berwisata ke Eropa. Mereka tertawa bersama... Pada saat di pesawat pun saya berpikir tentang betapa berharganya orang-orang di sekeliling saya; keluarga, saudara, dan teman. pada saat beli suvenir, yang saya ingat adalah keluarga dan teman-teman (sampai lupa menghadiahi diri sendiri). Sewaktu di Italia pun, saya selalu berpikir betapa durjananya saya sama keluarga ketika saya bersama mereka. Ternyata traveling sendiri membuat diri menjadi sentimentil. Belum lagi masalah memenuhi kewajiban panggilan alam ke toilet. Terus yang jagain barang siapa? :'( 



Sometimes, we take for granted every moment we face every day. That's why, cherish every moment you have every day, every minute of it.


“Cherish every moment with those you love 
at every stage of your journey” 
Jack Layton 


*Pics are taken from Google

3 comments:

  1. gw mau denger cerita di itali lainnya!

    ReplyDelete
  2. dari dulu gw penasaran kayak apa idup di eropah *halah. mau cerita lainnyaa.

    demi apa itu pramugari baek beneer. keren

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe... alhamduillah, dulu gw nggak sedurjana sekarang, jadi ada orang baik dalam hidup gw.

      pan kapan ya, ukh. tapi udah nggak update juga klo diceritain sekarang. udah 8 tahun yang lalu hhehehe

      Delete