Monday, 22 September 2014

Mengejar Sunrise di Punthuk Setumbu

Niat hati menunaikan janji untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan mengejar sunrise. Lupa. Ingat. Lupa. Ingat. Ah ya, pembaca pasti tahu saya terkena shoert-term memory syndrome dan sedikit moody. Jadi, lupa.

Sampai akhirnya Niwa si kucing laper menyebut blog Rahne Putri. Ketika saya membukanya, hati saya tergugah. Rahne membuat beberapa post tentang perjalanannya di Indonesia dan mempromosikan #Indonesiaonly sebagai bentuk kebanggan kita. Why don't I contribute to that movement?

03.00 AM
Alarm membangunkan saya. Bukan, bukan alarm yang membuat saya bersemangat bangun tapi rasa penasaran saya tentang suatu tempat melihat sunrise yang dipromosikan sama sepupu saya yang hobi motor trail itu.

03.30 AM
Berbekal mata kriyep-kriyep dan minuman, berangkatlah saya, Abang saya, dan sepupu saya dari Jogja. Perjalanan ke arah Magelang di pagi buta terasa sepi.

Arah candi Borobudur sudah dilewati, sepupu saya terus melaju hingga ke arah hotel Aman Jiwo (pasti tahu ya, hotel dengan nama Aman pasti mahalnya bolak-balik Jakarta-Turki buat harga semalem). Niat hati ingin cek in path di hotel ini, tapi lupa. Emang niat busuk kadang gak dibolehin ya hehe!

Kemudian kami jalan terus hingga ke arah Punthuk Setumbu.

04.30 AM
Akhirnya, sampailah kami sampai di batas akhir jalan yang bisa dilalui mobil. Jangan bersedih, petualangan baru dimulai. Perjalanan mendaki. Yak, tanpa penerangan. Dibantu power-bank-segede-batu-bata punya Abang yang ada senternya, kami mendaki dengan selamat. (Lagi-lagi, terpujilah pembuat power bank berikut senter).

Inilah saat-saat kami menunggu sunrise. Semua sudah pasang kuda-kuda alias pegang kamera. Inilah momen yang mendahului datangnya si pemberi cahaya dunia, matahari.

(View dari Punthuk Setumbu, Magelang)

Lihat dua cahaya di sebelah kanan? Itu cahaya yang berasal dari Candi Borobudur :). Dan ya, itu berkabut. Gunung yang sebelah kiri Merbabu, dan yang kanan dan berasap Merapi. 

05.00 AM 
Datanglah si matahari yang ditunggu-tunggu. 

So, how is it? Breathtaking scenery, isn't it? Ini di Indonesia, loh, sekedar mengingatkan.  #Indonesiaonly

Masih ada beberapa shot yang saya ambil dan sayang kalau terlewat untuk dipajang :)
(Pssst, semua tanpa editing)



Ketika saya melihat pemandangan di atas live dari mata, satu hal yang ada di pikiran dan hati saya. Saya bersyukur atas segala kemampuan dan kapasitas yang saya miliki hingga saya bisa berdiri di Punthuk Setumbu. 

Saya bersyukur punya mata yang bisa melihat God's masterpiece langsung. Saya punya kaki yang sehat yang bisa membawa saya mendaki sedikit hingga ke tempat melihat sunrise. Saya punya saudara yang tahu tempat ini, dan bersedia mengantar. Saya punya Abang yang selalu bersemangat untuk berpetualang walaupun harus bangun jam 3 pagi. Last but not least, terima kasih kepada mobilnya saudara saya yang bagus nan boros bensin yang sudah membawa saya ke tempat tersebut dengan lincahnya. Hehe!

Bersyukur tidak harus selalu ketika melihat sesuatu/seseorang berada di bawah kita. Ya kan?

4 comments:

  1. "Bersyukur tidak harus selalu ketika melihat sesuatu/seseorang berada di bawah kita. Ya kan?"

    Hhhmmmmm :))

    ReplyDelete