Friday, 2 January 2015

Hiduplah Di Kekinian

Beranjak ke penghujung tahun, saya berkunjung ke rumah kakak sepupu saya di Bintaro. Seperti biasanya, kita selalu berbagi cerita tentang buku-buku yang disukai.

Belakangan, memang orientasi buku yang saya baca sedikit berubah. Saya tetap suka novel fiksi, tetapi tidak seperti dulu. Sekarang saya lebih suka membaca dan mengoleksi buku yang lebih "berisi" untuk memberi nutrisi ke otak saya yang terus menerus diterpa urusan kantor.

Di kunjungan saya kali itu, saudara saya merekomendasikan buku layak-jadi-koleksi, yaitu ini.
Setelah setengah dibaca, saya mengiyakan. Buku ini memang layak dijadikan koleksi. Ada beberapa bagian yang saya ingat, salah satunya, hiduplah saat ini.  Fokuslah pada saat ini.

Di buku disebutkan bahwa terkadang kita ada bersama orang lain, tetapi pikiran kita/dia tidak berada di masa yang sama. Sering kali kita melihat bahwa beberapa menit pertama, dia masih memperhatikan apa yang kita sampaikan. Namun beberapa menit kemudian, dia sudah "hilang" entah kemana.

Mengapa hal itu terjadi? Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan masa depan, kita harus seperti apa dan berbagai rencana untuk menggapainya. Yang lebih buruk adalah kita terlalu sibuk memikirkan masa lalu, mengenangnya secara terus-menerus dan menikmati penderitaan. Dan kita lupa hidup pada masa kini. Saat ini. Detik ini. Merasakan yang ada di depan mata.

Setelah membaca buku itu, saya sadar dan mencoba mempraktekkannya. Memang baru 1 hari. Kemarin, saya jalan seharian sama teman saya yang sebentar lagi menyusul suaminya ke negara pusat fesyen dan kuliner. Saya mencoba untuk fokus mendengarkan apa yang saya dan dia sampaikan.

Hasilnya mengejutkan. Saya bisa fokus dalam waktu yang lama sebenarnya. Dulu, saya hanya bisa fokus sekitar 45 menit, sisanya pikiran sudah berlarian entah kemana. Kemarin saya bisa memperhatikan segala hal yang teman saya ucapkan. Ternyata, saya bisa menikmati lebih karena saya berusaha menjaga pikiran saya di masa kini.

Bukan hanya buku Desi Anwar, Paulo Coelho juga menyatakan yang sama di bukunya

"Ksatria cahaya melepaskan gagasan tentang hari dan jam agar bisa memberikan perhatian yang lebih besar pada saat ini"

Bahkan di satu buku (saya lupa yang mana) menyebutkan untuk sesekali fokus bahkan pada hal yang otomatis, seperti berkedip, merasakan detak jantung, bernafas, berjalan dan merasakan langkah kaki.

Dengan begitu, kita dapat lebih menghargai tubuh ini, menghargai kesehatan, dan menghargai hidup saat ini.

Jadi, mari sadari, rasakan, nikmati, dan hiduplah di kekinian.

2 comments:

  1. Rasakan detak jantungmu dengan baik sebelum tetiba terasa sakit membuatmu sesak nafas lalu berhenti berdetak. Nice share.. *penasaran ama bukunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo bacaaaa... hehehehe... Gw mau beli bukunya, mayan buat penambah semangat

      Delete